DA’WAH MENGAJAK KEPADA TAUHID PERLUKAN MASA & KONSISTEN
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Da’wah mengajak kepada tauhid dan menetapkan tauhid di dalam hati manusia mengharuskan kita tidak membiarkan melewati ayat-ayat tanpa perincian sebagai mana pada masa-masa awal. Demikian itu karena, yang pertama mereka memahami ungkapan-ungkapan bahasa Arab dengan mudah, dan yang kedua karena ketika itu tidak ada penyimpangan dalam hal aqidah yang muncul dari ilmu filsafat dan ilmu kalam yang bertentangan dengan aqidah yang lurus. Kondisi kita pada saat ini berbeda dengan kondisi kaum muslimin pada masa-masa awal. Maka tidak boleh kita menganggap bahwa da’wah mengajak kepada aqidah yang benar pada masa ini adalah mudah seperti keadaan masa-masa awal. Dan saya ingin mendekatkan hal ini dengan satu contoh yang dalam contoh ini dua orang tidak saling berselisih, Insya Allah, yaitu :
Diantara kemudahan yang dikenal ketika itu adalah bahwa para sahabat mendengar hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung, kemudian para tabi’in mendengar hadits dari para sahabat secara langsung … demikianlah kami mendapati pada tiga generasi yang dipersaksikan memiliki kebaikan. Dan kami bertanya : Apakah ketika itu di sana terdapat suatu ilmu yang disebut dengan ilmu hadits ? Jawabannya “tidak”. Dan apakah ketika itu disana terdapat ilmu yang disebut ilmu Jarh wa ta’dil ? Jawabannya “tidak”. Adapun sekarang, seseorang penuntut ilmu mesti memiliki kedua ilmu ini, kedua ilmu ini termasuk fardhu kifayah. Hal itu agar seorang ‘alim pada saat ini mampu mengetahui suatu hadits apakah shahih atau dhaif.
Maka urusannya tidaklah dianggap mudah sebagaimana urusan ini mudah bagi para sahabat, karena para sahabat mengambil hadits dari sahabat lainnya yang mereka itu telah dijamin dengan persaksian Allah Azza wa Jalla atas mereka … hingga masa akhir. Maka apa-apa yang ketika itu mudah, tidaklah mudah pada masa saat ini dari sisi kejernihan ilmu dan kepercayaan sumber pengambilan ilmu. Oleh karena itu, harus ada perhatian yang serius terhadap masalah ini sebagaimana mestinya berupa apa-apa yang sesuai dengan problem-problem yang mengitari kita sebagai kaum muslimin sekarang ini dimana problem ini tidak dimiliki oleh kaum muslimin generasi awal dari sisi kekotoran aqidah yang menyebabkan (terjadinya) problema-problema dan menimbulkan syubhat-syubhat dari ahli-hali bid’ah yang menyimpang dari aqidah yang shahih dan manhaj yang benar dengan nama yang bermacam-macam, diantaranya adalah seruan untuk mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemikiran mereka, sebagaimana diakui oleh orang-orang yang menisbahkan (diri) kepada ilmu kalam.
Dan ada baiknya di sini kami menyebutkan sebagian apa-apa yang terdapat dalam hadits shahih tentang hal ini, diantaranya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyebutkan tentang ghuraba’ (orang-orang yang asing) pada sebagian hadist-hadits tersebut, beliau bersabda :
“Artinya : ‘Bagi satu orang di antara mereka lima puluh pahala’ Mereka (para sahabat) berkata (50 pahala) dari kami atau dari mereka ya, Rasulullah ? Beliau menjawab : ‘Dari kalian’ “.[1]
Dan ini termasuk dari hasil keterasingan yang sangat bagi Islam pada saat ini dimana keterasingan seperti itu tidak terjadi pada masa-masa generasi awal. Tidak diragukan lagi, bahwa keterasingan pada masa generasi awal adalah keterasingan antara kesyirikan yang jelas dan tauhid yang bersih dari segala noda, antara kekufuran yang nyata dari iman yang benar. Adapun sekarang ni problem yang terjadi adalah di antara kaum muslimin itu sendiri, kebanyakan dari mereka tauhidnya dipenuhi dengan noda syirik, dia memperuntukkan ibadah-ibadah kepada selain Allah dan dia mengaku beriman.
Permasalahan ini harus mendapat perhatian yang pertama. Dan yang kedua, tidak sepatutnya sebagian orang berkata : “Sesungguhnya kita harus berpindah kepada tahap yang lain selain tahap tauhid, yaitu kepada politik !!” Karena da’wah pertama dalam Islam adalah da’wah yang hak (yaitu da’wah mengajak kepada kebenaran) maka tidak sepatutnya kita berkata : “Kami adalah orang Arab dan Al-Qur’an turun dengan bahasa kami” Padahal perlu diingat bahwa orang Arab pada saat ini berbeda dengan orang arab ‘ajam yang memahami bahasa mereka sendiri. Hal ini menyebabkan jauhnya mereka dari kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi mereka.
Taruhlah bahwa kita ini orang Arab dan telah memahami Islam dengan pemahaman yang benar, tetapi tidak mengharuskan kita untuk berpolitik dan menggerakkan manusia dengan gerakan-gerakan politik serta menyibukkan mereka dengan politik, tetapi kewajiban mereka sekarang ini adalah memahami Islam dalam hal aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak !! Saya tidak yakin bahwa sekarang ini terdapat suatu bangsa yang terdiri dari jutaan orang telah memahami Islam dengan pemahaman Islam yang benar dalam hal aqidah, ibadah, dan akhlak, dan mereka telah terdidik atas hal tersebut.
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Priorias Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal 36-40, terbitan Darul Haq, penerjemah Fariq Gasim Anuz]
_________
Foote Note
[1]. [Hadits Shahih : Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (10/225) No. 10394, dari hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Dan hadits ini memiliki syahid dari hadits ‘Uqbah bin Ghazwan salah seorang sahabat Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar sebagaimana dalam Al-Zaqaid (7.282). Dan hadits ini pun memiliki syahid yang lain dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Daud (4341). Dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (494)
PENJELASAN TENTANG KETIDAK JELASAN AQIDAH YANG BENAR DAN KONSEKUENSI KONSEKUENSINYA DALAM BENAK KEBANYAKAN ORANG
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Dari contoh ini, saya ingin menjelaskan bahwa aqidah tauhid dengan segenap konsekuensinya tidaklah jelas -sayang sekali- di benak mayoritas orang-orang yang beriman kepada aqidah salaf itu sendiri, apalagi di benak orang lainnya yang mengikuti aqidah asy’ariyah atau maturidiyah atau jahmiyah dalam masalah seperti ini. Maka saya melontarkan contoh seperti tadi untuk menunjukkan bahwa masalah ini tidaklah semudah seperti yang digambarkan oleh sebagian da’i yang bersama-sama dengan kita dalam menda’wahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sekarang ini, sesungguhnya urusannya tidaklah mudah sebagaimana yang disangka oleh sebagian mereka. Dan sebabnya adalah seperti apa yang telah dijelaskan terdahulu, yaitu berupa perbedaan antara orang-orang jahiliyah musyrik yang pertama, ketika mereka diseru untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mereka menolak karena mereka memahami makna kalimat thayyibah ini, dan antara mayoritas kaum muslimin pada masa ini yang mengucapkan kalimat thayyibah tetapi tidak memahami maknanya secara benar. Perbedaan ini merupakan perbedaan yang pokok, terbukti dalam masalah aqidah seperti tadi, yang saya maksud adalah masalah ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas semua makhluk-Nya. Hal ini membutuhkan penjelasan, seorang muslim tidaklah cukup hanya meyakini :
“Artinya : (Allah) Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy”. [Thaha : 5]
Irhamuu man fii al-ardhi yarhamkum man fii asy-samaa’i
“Artinya : Sayangilah yang di bumi, niscaya yang dilangit akan menyayanginmu” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud (4941), dan At-Tirmidzi (1925), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (925)].
Tanpa dia mengetahui bahwa kata “Fii” yang terdapat dalam hadits tersebut bukan berarti menunjukkan tempat (dibawah). Hal itu seperti “Fii” yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
Am amintum man fii asy-samaa’i
“Artinya : Apakah kalian merasa aman dari (Allah) yang di (atas) langit” [Al-Mulk : 16].
Karena “Fii” disini maknanya adalah ” ‘Ala” (di atas), dan dalil tentang hal itu banyak, bahkan banyak sekali. Di antaranya adalah hadits terdahulu yang banyak disebut oleh manusia, dan hadits itu dengan seluruh jalannya -Alhamdulillah- shahih. Dan makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sayangilah yang di bumi” bukan berarti serangga dan ulat-ulat yang ada di dalam bumi ! Tetapi yang dimaksud adalah yang berada di atas bumi, seperti manusia dan hewan. Dan hal itu sesuai dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “… maka yang di langit akan menyayangimu” maksudnya : yang di atas langit. Orang-orang yang telah menerima da’wah yang hak (benar) ini mesti berada di atas kejelasan tentang perincian seperti tadi. Dan contoh lain yang mendekati hadits diatas, hadits Al-Jariyah yang dia itu adalah pengembala kambing, hadits ini masyhur, saya akan menyebutkannya sebagai penguat. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya : “Dimana Allah ?” Dia menjawab : “Di langit” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim (537), Abu Daud (930) Nasa'i (I/14-18) dari hadits Mu'awiyah bin Al-Hakami As-Sulami Radhiyallahu 'anhu]
Seandainya engkau pada hari ini bertanya kepada beberapa guru besar Al-Azhar -misalnya- : “Dimana Allah ?”, maka mereka akan menjawab :” Di setiap tempat !”. Padahal Jariyah (budak wanita) menjawab bahwa Allah di langit, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan jawaban Jariyah tersebut. Mengapa ? Karena Jariyah itu menjawab berdasarkan fitrah dan dia hidup di tempat yang memungkinkan dengan istilah kita pada masa ini untuk kita namakan dengan sebutan “lingkungan salafiyah” yang belum tercemar dengan lingkungan yang buruk, karena dia telah lulus dari “madrasah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam” sebagaimana yang mereka istilahkan sekarang ini.
Madrasah ini tidak khusus hanya bagi sebagian laki-laki dan tidak pula hanya bagi sebagian wanita. Tetapi madrasah ini untuk seluruh lapisan masyarakat yang terdiri dari laki-laki dan wanita, oleh karena itu seorang pengembala kambing mengetahui aqidah yang benar, karena dia tidak tercemar dengan lingkungan yang buruk. Dia mengetahui aqidah yang benar sebagaimana terdapat dalam kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah, padahal kebanyakan dari orang-orang yang mengaku memiliki ilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak mengetahui hal tersebut, dia tidak mengetahui dimana Rabbnya !. Padahal masalah tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Pada hari ini saya mengatakan bahwa tidak didapati sedikit pun dari penjelasan ini di kalangan kaum muslimin, dimana seandainya engkau bertanya -saya tidak mengatakan kepada pengembala kambing- tetapi kepada pemimpin umat atau kelompok maka dia akan bingung ketika menjawab sebagaimana kebanyakan manusia bingung saat ini kecuali orang-orang yang dirahmati Allah, dan jumlah mereka itu sangat sedikit.
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal 31-35, terbitan Darul Haq, penerjemah Fariq Gasim Anuz]
SALAF DAN SALAFIYAH SECARA BAHASA ISTILAH DAN PERIODISASI ZAMAN
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Saya menginginkan orang yang berjalan di atas manhaj salaf dengan ilmu, dan ini syaratnya :
“Artinya : Katakanlah : Inilah (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf : 108]
Untuk mengetahui bahwa penunjukkan dan pecahan kata ini mengalahkan ikatan fanatisme kelompok yang merusak dan melampui lorong sempit kerahasiaan karena dia itu sangat jelas seperti jelasnya matahari di siang hari.
“Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih dan berkata : ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [Fush shilat : 33]
Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan.
Berkata Ibnul Mandzur (Lisanul Arab 9/159) : Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta keutamaan yang lebih banyak. Oleh karena itu, generasi pertama dari Tabi’in dinamakan As-Salafush Shalih.
Saya berkata : Dan dengan makna ini adalah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fathimah Radhiyallahu ‘anha.
“Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf) bagimu adalah aku”
[Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 2450]
Dan diriwayatkan dari beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam bahwa beliau berkata kepada putri beliau Zainab Radhiyallahu ‘anha ketika dia meninggal.
“Artinya : Susullah salaf shalih (pendahulu kita yang sholeh) kita Utsman bin Madz’un” [Hadits Shahih Riwayat Ahmad 1/237-238 dan Ibnu Saad dalam Thobaqaat 8/37 dan di shahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarah Musnad No. 3103, akan tetapi dimasukkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Dhoifh No. 1715]
Adapun secara istilah, maka dia adalah sifat pasti yang khusus untuk para sahabat ketika dimutlakkan dan yang selain mereka diikutsertakan karena mengikuti mereka.
Al-Qalsyaany berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risalah (q 36) : As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi mengikuti petunjuk Rasulullah dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka untuk menegakkan agamaNya dan meridhoi mereka sebagai imam-imam umat. Mereka telah benar-benar berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghabiskan umurnya untuk memberikan nasihat dan manfaat kepada umat, serta mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan-Nya.
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji mereka dalam kitabNya dengan firmanNya.
“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” [Al-Fath : 29]
Dan firman Allah.
“Artinya : (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar” [Al-Hasr : 8]
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut kaum muhajirin dan Anshor kemudian memuji itiba’ (sikap ikut) kepada mereka dan meridhoi hal tersebut demikian juga orang yang menyusul setelah mereka dan Allah Subahanahu wa Ta’ala mengancam dengan adzab orang yang menyelisihi mereka dan mengikuti jalan selain jalan mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An-Nisa' : 115]
Maka merupakan suatu kewajiban mengikuti mereka pada hal-hal yang telah mereka nukilkan dan mencontoh jejak mereka pada hal-hal yang telah mereka amalkan serta memohonkan ampunan bagi mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berkata : “Ya Rabb kami, beri ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” [Al-Hasr : 10]
Istilah ini pun diakui oleh orang-orang terdahulu dan mutaakhirin dari ahli kalam.
Al-Ghazaali berkata dalam kitab Iljaamul Awaam an Ilmil Kalaam hal 62 ketika mendefnisikan kata As-Salaf : Saya maksudkan adalah madzhab sahabat dan tabiin.
Al-Bajuuri berkata dalam kitab Syarah Jauharuttauhid hal. 111 : Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu yaitu para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabiit-tabiin.
Istilah inipun telah dipakai oleh para ulama pada generasi-generasi yang utama untuk menunjukkan masa shohabat dan manhaj mereka, diantaranya :
[1]. Berkata Imam Bukhari (6/66 Fathul Bariy) : Rasyid bin Sa’ad berkata : Dulu para salaf menyukai kuda jantan, karena dia lebih cepat dan lebih kuat.
Al-Hafidz Ibnu Hajar menafsirkan perkataan Rasyid ini dengan mengatakan : Yaitu dari para sahabat dan orang setelah mereka.
Saya berkata : Yang dimaksud adalah shahabat karena Rasyid bin Saad adalah seorang Tabi’in maka sudah tentu yang dimaksud di sini adalah shahabat.
[2]. Berkata Imam Bukhari (9/552 Fathul Bariy) : Bab As-Salaf tidak pernah menyimpan di rumah atau di perjalanan mereka makanan daging dan yang lainnya.
Saya berkata ; Yang dimaksud adalah shahabat.
[3]. Imam Bukhari berkata (1/342 Fathul Bariy) : Dan Az-Zuhri berkata tentang tulang-tulang bangkai seperti gajah dan yang sejenisnya : Saya menjumpai orang-orang dari kalangan ulama Salaf bersisir dan berminyak dengannya dan mereka tidak mempersoalkan hal itu.
Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat karena Az-Zuhri adalah seorang tabiin.
[4]. Imam Muslim telah mengeluarkan dalam Muqadimah shahihnya hal.16 dari jalan periwayatan Muhammad bin Abdillah, beliau berkata aku telah mendengar Ali bin Syaqiiq berkata ; Saya telah mendengar Abdullah bin Almubarak berkata – di hadapan manusia banyak- : Tinggalkanlah hadits Amru bin Tsaabit, karena dia mencela salaf.
Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat.
[5]. Al-Auza’iy berkata : Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah berdiri di tempat kaum tersebut berdiri, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan dan tempuhlah jalannya As-Salaf Ash-Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka [Dikeluarkan oleh Al-Aajury dalam As-Syari'at hal.57]
Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat. Oleh karena itu, kata As-Salaf telah mengambil makna istilah ini dan tidak lebih dari itu. Adapun dari sisi periodisasi (perkembangan zaman), maka dia dipergunakan untuk menunjukkan generasi terbaik dan yang paling benar untuk dicontoh dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan dari lisan sebaik-baiknya manusia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka memiliki keutamaan dengan sabdanya.
“Artinya : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi kemudian datang kaum yang syahadahnya salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului syahadahnya” [Dan dia adalah hadits Mutawatir akan datang Takhrijnya]
Akan tetapi periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan As-Salaf Ash-Shalih.
Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik. Dan diatas tinjauan inilah dipakai istilah salaf yaitu dipakai untuk orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj di atas pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu a’nhuma sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.
Adapun nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang dibuat-buat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa 4/149 : Tidak ada celanya atas orang yang menampakkan manhaj Salaf, menisbatkan kepadanya dan bangga dengannya, bahkan pernyataan itu wajib diterima menurut kesepakatan Ulama, karena madzhab Salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.
Sebagian orang dari orang yang mengerti akan tetapi berpaling ketika menyebut Salafiyah, mereka terkadang menyangka bahwa Salafiyah adalah perkembangan baru dari Jama’ah Islamiyah yang baru yang melepaskan diri dari lingkungan Jama’ah Islam yang satu dengan mengambil untuk dirinya satu pengertian yang khusus dari makna nama ini saja sehingga berbeda dengan kaum muslimin yang lainnya dalam masalah hukum, kecenderungan-kecenderungan bahkan dalam tabia’at dan norma-norma etika (akhlak).[1]
Tidaklah demikian itu ada dalam manhaj salafi, karena salafiyah adalah Islam yang murni (bersih) secara sempurna dan menyeluruh baik kitab maupun sunnah dari pengaruh-pengaruh endapan peradaban lama dan warisan kelompok-kelompok sesat yang beraneka ragam sesuai dengan pemahaman Salaf yang telah dipuji oleh nash-nash al-Kitab dan As-Sunnah.
Prasangka itu hanyalah rekaan prasangka salah dari suatu kaum yang tidak menyukai kata yang baik dan penuh barokah ini, yang asal kata ini memiliki hubungan erat dengan sejarah umat Islam sampai bertemu generasi awal, sehingga mereka menganggap bahwa kata ini dilahirkan dari gerakan pembaharuan yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh pada masa penjajahan Inggris di Mesir.[2]
Orang yang menyatakan persangkaan ini atau yang menukilkannya tidak mengetahui sejarah kata ini yang bersambung dengan As-Salaf Ash-Shalih secara makna, pecahan kata dan periodisasi. Padahal para ulama terdahulu telah mensifatkan setiap orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dalam aqidah dan manhaj dengan Salafi. Seperti ahli sejarah Islam Al-Imam Adz-Dzahaabiy dalam Siyar ‘Alam an-Nubala 16/457 menukil perkataan Ad-Daroquthniy : Tidak ada sesuatu yang paling aku benci melebihi ilmu kalam. Kemudian Adz-Dzahaabiy berkata : Dia tidak masuk sama sekali ke dalam ilmu kalam dan jidal (ilmu debat) dan tidak pula mendalami hal itu, bahkan di adalah seorang Salafi.
[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Lihatlah tulisan Dr. Al-Buthiy dalam kitabnya As-Salafiyah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun La Madzhabun Islamiyatun, kitab ini lahiriyahnya rahmat tetapimsebaliknya merupakan adzab.
[a] Dia berusaha mencela As-Salaf dalam manhaj ilmiyah mereka dalam talaqiy, pengambilan dalil (istidlal) dan penetapan hukum (istimbath), dengan demikian dia telah menjadikan mereka seperti orang-orang ummiy yang tidak mengerti Al-Kitab kecuali hanya dengan angan-angan.
[b] Dia telah menjadikan manhaj Salaf (As-Salafiyah) fase sejarah yang telah lalu dan hiloang tidak akan kembali ada kecuali kenangan dan angan-angan.
[c] Mengklaim bid’ahnya intisab (penisbatan) kepada salaf, maka dia telah mengingkari satu perkara yang sudah dikenal dan tersebar sepanjang zaman secara turun temurun.
[d] Dia berputar seputar manhaj Salaf dalam rangka membenarkan madzhab khalaf dimana akhirnya dia menetapkan bahwa manhaj khalaf adalah penjaga dari kesesatan hawa nafsu dan menyembunyikan kenyataan-kenyataan sejarah yang membuktikan bahwa manhaj khalaf telah mengantar kepada kerusakan peribadi muslim dan pelecehan manhaj Islam.
[2] Dakwaan-dakwaan ini memiliki beberapa kesalahan :
[a] Gerakan yang dipelopori oleh Jamaludin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh bukanlah salafiyah akan tetapi dia adalah gerakan aqliyah kholafiyah dimana mereka menjadikan akal sebagai penentu daripada naql (nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah).
[b] Telah muncul penelitian yang banyak seputar hakikat Al-Afghaniy dan pendorong gerakannya yang memberikan syubhat (keraguan) yang banyak seputar sosok ini yang membuat orang yang memperhatikan sejarahnya untuk was-was dan berhati-hati darinya.
[c] Bukti-bukti sejarah telah menegaskan keterlibatan Muhammad Abduh pada gerakan Al-Masuniyah[ Missionary] dan dia dianggap tertipu oleh propagandanya dan tidak mengerti hakikat gerakan Masoni tersebut.
[d] Pengkaitan As-Salafiyah dengan gerakan Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh adalah tuduhan jelek terhadapnya walaupun secara tersembunyi dari apa yang telah dituduhkan mereka kepadanya dari keterikatan dan motivasi yang tidak jelas.
Hakikat Iman
Penulis: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
Ketika ada orang yang berusaha memegang teguh nilai-nilai agama, terlontarlah ucapan orang lain kepadanya: “Tidak usah sok suci kamu. Iman itu yang penting di dalam hati.” Ilustrasi ini sangat mungkin pernah kita alami. Benarkah demikian? Cukupkah untuk dikatakan sebagai orang yang beriman hanya dengan keyakinan yang ada di dalam hati?
Pembahasan seputar iman adalah sangat penting, sebab iman menjadi satu istilah yang syar’i dan agung di dalam syariat. Secara bahasa iman berarti pembenaran (tashdiq) yang pasti dan tidak terkandung keraguan di dalamnya. Pembenaran yang dimaksud dari iman ini meliputi dua perkara, yaitu membenarkan segala berita, perintah, dan larangan, serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan- larangan-Nya.
Adapun secara istilah, Ahlus Sunnah wal Jamaah berpemahaman bahwa iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan. Sebagian mereka ada pula yang mendefinisikan iman dengan ‘ucapan dan amalan’ atau ‘ucapan, amalan, dan niat’ namun semua pengertian tentang iman ini tidaklah saling bertentangan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Mereka (para salaf dan imam-imam As-Sunnah) terkadang mengatakan bahwa iman adalah ‘ucapan dan amalan’ atau iman adalah ‘ucapan, amalan, dan niat’, terkadang juga mengatakan bahwa iman adalah ‘ucapan, amalan, niat, dan mengikuti As-Sunnah’, tapi adakalanya mengatakan bahwa iman itu ‘ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan’, dan semua makna iman di atas adalah benar adanya.”
Beliau melanjutkan: “Sesungguhnya yang mengatakan bahwa iman adalah ‘ucapan dan amalan’, maka yang dimaksud adalah ucapan hati dan lisan kemudian amalan hati dan anggota badan. Adapun yang menambahnya dengan kata ‘i’tiqad (keyakinan)’ adalah karena memandang bahwa ucapan itu tidak dapat dipahami darinya kecuali ucapan zhahir (lisan) atau khawatir akan dipahami seperti itu, maka ditambahlah kata i’tiqad dalam hati.
Sementara yang menyatakan iman sebagai ‘ucapan, amalan, dan niat’, dikarenakan suatu amalan tidaklah dapat dikatakan sebagai amalan kecuali dengan adanya niat. Karena itu ditambahlah kata niat padanya. Kemudian yang menambahkan kata ‘mengikuti As-Sunnah’ ke dalam makna iman, karena hal tersebut tidaklah dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan mengikuti As-Sunnah.” (Kitabul Iman hal. 162-163)
Iman jika disebutkan secara mutlak dalam kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka akan mencakup penunaian atas hal-hal yang diwajibkan dan meninggalkan perkara-perkara yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللهِ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِي كَثِيْرٍ مِنَ اْلأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ اْلإِيْمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَ
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kapada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Al-Hujurat: 7)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan ‘kami mendengar dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)
Dari sini nampak jelas adanya keterkaitan yang kuat antara iman dengan amal. Karena itu di dalam Al-Qur`an, Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menguraikan persoalan ini. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (As-Sajdah: 15)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
لاَ يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِيْنَ. إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوْبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُوْنَ
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (At-Taubah: 44-45). Dan ayat-ayat lainnya.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa iman yang diserukan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adalah Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai dien-Nya. Ini menunjukkan adanya keterkaitan pula antara iman dengan Islam.
Al-Imam Az-Zuhri rahimahullahu dan yang lainnya dari kalangan Ahlus Sunnah mengatakan: “Amal masuk dalam kategori iman, sedangkan Islam adalah bagian dari iman.” (Majmu’ul Fatawa, 7/254)
Iman, Islam, dan Amal
Iman, Islam, dan amal shalih seringkali penyebutannya dibarengkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang iman juga disatukan penyebutannya dengan orang- orang yang berilmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang berilmu masuk dalam jajaran orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِيْنَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِيْنَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِيْنَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِيْنَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْـمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْـمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِيْنَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيْهَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. فَمَا وَجَدْنَا فِيْهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri (muslimin).” (Adz- Dzariyat: 35-36)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah jika engkau telah memiliki kemampuan untuk itu.”
Beliau bersabda lagi: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta beriman kepada qadar (taqdir) yang baik dan buruknya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan lainnya dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Al-Bayyinah: 7)
وَقَالَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَاْلإِيْمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): ‘Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit, maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakininya’.” (Ar-Rum: 56)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)
وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami…’.” (Ali ‘Imran: 7)
لَكِنِ الرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُوْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ
“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur`an) dan apa yang telah diturunkan sebelummu.” (An-Nisa`: 162)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Ketika kata iman dan Islam menyatu penyebutannya maka Islam adalah amalan-amalan yang dzahir seperti dua kalimat syahadat, shalat, zakat, dan shaum serta haji dan yang lainnya. Sedangkan iman adalah apa yang ada dalam hati seperti beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta yang lainnya.” (Majmu’ul Fatawa, 7/14)
Adakalanya kata iman disebutkan tersendiri tanpa dibarengi kata Islam, amal shalih, maupun kata-kata lainnya. Dalam keadaan ini maka secara otomatis telah masuk ke dalamnya Islam dan amal shalih. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu ada 63 atau 73 cabang. Yang paling afdhal adalah ucapan Laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah cabang dari iman.” (HR. Muslim, dan juga Al-Bukhari serta yang lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Seluruh hadits yang menyebutkan amalan-amalan yang baik sebagai bagian dari iman menunjukkan akan hal ini.
Perbedaan Iman dan Islam
Islam adalah dien. Dan kata “dien” merupakan bentuk mashdar1 (kata kerja yang dibendakan) dari asal kata دَانَ – يَدِ يْنُ yang bermakna tunduk dan merendah.
Dien Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai dan utus dengannya para Rasul adalah penyerahan diri hanya kepada-Nya saja. Maka landasannya di dalam hati ialah ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beribadah hanya kepada-Nya saja, tanpa kepada yang lain. Barangsiapa menyembah-Nya dan menyembah ilah yang lain, tidaklah menjadi seorang muslim. Dan barangsiapa enggan menyembah-Nya bahkan menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya, maka tidaklah menjadi seorang muslim. Intinya, Islam adalah berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk kepada-Nya dan beribadah hanya kepada-Nya. Kemudian, pada prinsipnya, Islam adalah bagian dari bab amalan yakni amalan hati dan anggota badan.
Adapun iman landasannya adalah tashdiq (pembenaran), iqrar (pengakuan), dan ma’rifat (pengenalan/pengetahuan). Iman adalah bagian dari ucapan hati, yang mencakup amalan hati dan landasannya adalah tashdiq. Sedangkan amal adalah perkara yang mengikutinya.
Oleh sebab itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan kata ‘iman’ dengan keimanan hati dan ketundukannya, yakni beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Sedangkan kata ‘Islam’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tafsirkan dengan penyerahan/penerimaan (istislam) yang khusus yakni terhadap bangunan-bangunannya (mabani) yang lima. Demikianlah dalam seluruh pernyataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menafsirkan iman dengan itu dan Islam dengan ini. (Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, seperti dalam Majmu’ Fatawa, 7/178)
Iman Bertambah dan Berkurang
Pemahaman tentang iman bertambah dan berkurang adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah secara utuh. Bahkan Al-Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullahu menegaskan bahwa ahli hadits dan fiqih telah sepakat menetapkan bahwa iman adalah ucapan dan amalan, tidak ada amalan kecuali dengan niat, dan bahwa iman itu bertambah dan berkurang. (At-Tamhid 9/238, melalui nukilan dari Taisirul Wushul Syarh Tsalatsatil Ushul hal. 77)
Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu dalam Syarhus Sunnah (hal. 132) mengatakan: “Barangsiapa berkata bahwa iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang, maka ia telah terbebas dari keyakinan irja` (Murji`ah) secara menyeluruh.”
Dalil-dalil yang menerangkan bertambah dan berkurangnya iman sangatlah banyak baik dari Al-Qur`an, As-Sunnah, ataupun ucapan para salaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِي قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوا إِيْمَانًا مَعَ إِيْمَانِهِمْ
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al-Fath: 4)
وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلاَّ مَلاَئِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلاَّ فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِيْمَانًا …
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya….” (Al-Muddatstsir: 31)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.” (At-Taubah: 124)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kapada Rabb-nyalah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُوْنَ اْلأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ إِيْمَانًا وَتَسْلِيْمًا
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Dari ‘Umair bin Habib, berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang.” Ia ditanya: “Apa tanda bertambah dan berkurangnya?” Beliau menjawab: “Jika kita ingat Allah k, lalu memuji dan menyucikan-Nya, maka itulah bertambahnya. Dan bila kita lalai, melupakan dan tidak menghiraukan-Nya, maka itulah tanda berkurangnya.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullahu dalam ‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hal. 266)
Demikian uraian singkat mengenai hakikat iman, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi kita semua kebenaran iman dan kekokohannya.
Wallahu a’lam.
sumber: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=770
Jenis-Jenis Tawhid
oleh: Dr Sulaiman Noordin
Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Wehdatul Wujud.
1) Mengapa Tauhid Itu Penting?
Umat Islam adalah umat aqidah.Oleh itu bertauhid yang betul merupakan asas bagi semua amalan yang soleh. Tanpanya amalan itu tidak diterima. Firman Allah :
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Barang siapa mengharapkan pengampunan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal soleh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Al_Kahfi :110)
Firman Allah :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
.
b) “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-nabi) yang sebelummu, jika kamu mempersekutukan (Tuhan), nescaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi (Az Zumar : 65)
Kata lawan Tauhid adalah Syirik, amalan seseorang tidak akan
diterima jika ianya tidak bersih daripada syirik.
Dalam kertas kerja ini akan diringkaskan:
a) takrif tauhid dan jenis-jenisnya
b) Keistimewaan tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah.
c) Makna yang benar bagi ’syahadah’
d) ‘Tawhid wahdatul wujud’ musuh tawhid uluhiyyah.
2) Mengapakah Para Ulama Menulis Buku Tauhid?
a) Di dalam buku “Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah” di tulis oleh Imam ath-Thahawi(239–321H) yang ditahqiq oleh Sheikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani bersamaan Jama’ah daripada golongan ulama as-Salaf di Madinah, ditulis :
“Ilmu usuluddin adalah ilmu yang terunggul dan istimewa, seseorang hamba berhajat kepadanya lebih daripada hajatnya kepada yang lain. Ia adalah ilmu dharurah dan wajib bagi setiap muslim. Sebabnya ialah hati manusia tidak akan berasa tenang melainkan ia kenal siapakah Rabnya, siapakah yang disembahnya? Siapakah yang menciptanya? Hamba itu mengenal Rabnya melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Ia adalah jalan untuk mendekati hati manusia kepada Rabnya. Jalan inilah yang diambil oleh para-rasul sebagai permulaan dan pembuka dakwah mereka.”
Iman Abu Hanifah rm.(80-150H) dari golongan at-Tabiin mengumpulkan ilmu usuluddin ini di bawah tajuk yang dinamakannya “Fiqhul Akbar” dan ilmu yang lainnya dinamakan “Fiqhul Furu’”. Dibahagian Fiqhul Furu’ adalah syariat yang mengandungi suruhan dan tegahan. (1)
b) Pada zaman Imam Ath-Thahawi (239-321H) telah mula tersebarnya ajaran sesat dalam akidah di kalangan umat dari golongan al-Mutakallimin dari golongan ahli failasuf. Mereka membuat slogan “menginginkan pertemuan antara syariat dan falsafah”. Jaham Ibn Safwan seorang mubtadak (pembuat bidaah) membawa pemikiran tasauf ala Hindu ke dalam akidah umat seperti pemikiran al-Hulul dan ittihad. Golongan Syiah dan Khawarij pula membawa pemikiran memusuhi para sahabat,mencipta hadis dan menentang penguasa dengan senjata dan menolak as-Sunnah Nabi s.a.w.
c) Abu Uthman Ash-Shabuni rm. (372-449H) seorang ulama besar di Khurasan pada zamannya menulis “Risalah Fi ‘Itiqadi Ahlus -Sunnah Wa-Ashabil Hadis wal A’immah” (Risalah Tentang Akidah Ahlus Sunnah Wal-Jamaah dan Ahlul Hadis). Di kitab tersebut beliau menulis berbagai persoalan penting berkenaan akidah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Begitu juga Abu Muhammad al-Barbahaari (wafat 329H) yang menulis buku “Syarah As-Sunnah”. Ibn Kathir menyatakan bahawa beliau adalah seorang berilmu, imam besar pada masanya dan menentang ahlul bi’daah supaya agama Islam dibersihkan dari sebarang khurafat yang dimasukkan ke dalamnya oleh ahlul bidaah itu.
3) Tauhid Apakah Yang Diberi Perhatian?
Ulama as-salafus soleh menjelaskan bahawa tauhid yang ditegaskan oleh para rasul adalah tauhid al-Uluhiyyah. Maklumat ini penting kerana majoriti umat diberi tahu setakat tawhid rububiyyah sahaja seperti terdapat dalam sifat 20. Untuk menerangkan tawhi dyang dibawa oleh para rasul, ulama membahagikannya kepada tiga jenis iaitu:-
1) Tauhid ar-Rububiyyah
2) Tauhid al-Uluhiyyah
3) Tauhid as-sifat wal-Asma’
a) Tauhid ar-Rububiyyah
Firman Allah :
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah yang menciptakan segala sesuatu” (Az-Zumar: 62)
Allah telah menetapkan wujudnya sebagai ‘Al-Khaliq’
(pencipta dan kesaanNya)
Firman Allah:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang mencipta (diri mereka sendiri)? (At-Thur : 35)
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَاباً وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ
“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat mencipta seekor lalat pun, walau mereka bersatu untuk menciptanya…”(Al-Hajj : 73)
4) Keistimewaan Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Rububiyyah Mewajibkan Tauhid Uluhiyyah. Jika seseorang beriman dengan tauhid rububiyyah. Iaitu tidak ada pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam kecuali Allah maka tidak ada yang berhak menerima ibadah (dengan pelbagai jenisnya) kecuali Allah s.w.t. Tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyyah.
Firman Allah
َ أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُون.
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa. Dialah yang menyediakan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, kerana itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui (Al-Baqarah: 21 – 22)
Allah s.w.t membuat tawhid rububiyyah sebagai dalil supaya hamba-Nya jangan menyekutukan Allah. Allah menerangkan cara bertaqarrub (mendekati diri) kepada Allah. (melalui tauhid Ibadah). Berkata Dr. Saleh Bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan seorang ulama besar di Riyadh dalam bukunya “Kitab at-Tauhid”.
“Maka tauhid rububiyyah adalah pintu gerbang untuk tauhid uluhiyyah” (2)
Menurut Imam Abu Jaafar dalam “Syarah Aqidah Ath-Thahawiyyah” “Tauhid yang diperentahkan oleh para-rasul adalah tauhid uluhiyyah.”
“Tawhid uluhiyyah meliputi tauhid ar-rububiyyah”
Tawhid ululiyyah mewajibkan beribadat kepada Allah sahaja tanpa menyekutukannya. Kaum musyrikin dari Arab pada masa itu berikrar (bersetuju) dengan kebenaran tauhid ar-rububiyyah iaitu Allahlah pencipta langit dan bumi dengan sendiriNya (4)
Firman Allah :
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan sungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab, ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
(Az-Zukruf : 9)
Firman Allah:
قُل لِّمَنِ الْأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ{84} سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ{85} قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ{86} سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah, kepunyaan siapakah bumi ini, dan semuanya yang padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab, ‘kepunyaan Allah’ Katakanlah: maka apakah kamu tidak ingat? Katakanlah, siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai, Arsy yang besar?”
Mereka akan menjawap‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah: maka apakah kamu tidak bertakwa?”. (Al-Mu’minun : 84 : 89).
Berkata Sheikh Saleh Fauzan :
“Mengakui tauhid ar-rububiyah semata, tidak membuat orang musyrik di Mekah masuk dalam Islam, malah Rasulullah s.a.w. memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahawa Allahlah yang pencipta, memberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan.”
Yang mereka lakukan yang tidak diterima oleh Allah s.w.t ialah mereka menyenkutukannya. Oleh sebab itulah mereka beribadah kepada bintang-bintang, patung-patung, malaikat dan jin. Mereka beri’tiqad bahawa benda-benda tersebut boleh mendekatkan mereka kepada Pencipta:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar : 39:3)
Firman Allah:
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan dan mereka berkata: Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami disisi Allah.” (Yunus 10:18)
Allah berfirman :
لاَّ تَجْعَل مَعَ اللّهِ إِلَـهاً آخَرَ
“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah” (Isra : 22)
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ
“Janganlah kamu sembah disamping Allah, tuhan apapun yang lain.” (al-Qashash, 28 : 88)
Ayat-ayat tersebut mengingatkan kaum musyirikin supaya Allah sahaja yang berhak disembah.
Umat Islam kini banyak tersesat ke dalam Wahdatul Wujud, yang pada hakikatnya lebeh terok dari keadaan kaum musrikeen di Mekah. Bagaiman?
5) Makna Syahadah:
لا إِلَهَ إَِّلا اللَّه
Menurut Dr. Saleh Fauzan ada beberapa penafian batil disini, antaranya :-
a). “Tidak ada tuhan disembah melainkan Allah”
Ertinya, semuanya yang disembah (betul atau tidak) adalah Allah.
b). “Tidak ada pencipta melainkan Allah”
Ini bukan dimaksudkan : kerana kalimah ini tidak terhad kepada tauhid rububiyah sahaja.
c) “Tidak ada hakim melainkan Allah”
Ini bukan dimaksudkan kerana ia sebahagian yang dimaksudkan.
d) Tafsir yang benar menurut para Imam as-solafus-soleh dan para muhaqqiq (ulama peneliti) ialah : “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah.”(5)
e) Jamaah Tabligh dari Delhi (Nizhamuddin) memberi tafsir sendiri, iaitu:
“Merealisasikan Kalimat Thayyibah ‘Laa Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah’ seperti berikut: “Mengeluarkan keyakinan yang rosak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahawasanya Dialah sang pencipta, maha pemberi rezeki….Maha menghidupkan dan mematikan.”
Tafsiran ini tafsir baru, bukan dimaksudkan ia terhad kepada tawhid rububiyyah sahaja.
6) Tauhid Wahdatul Wujud, Bahayanya Ke Umat Islam
a) Falsafah Yunani khasnya falsafah Plato (427-437sm) dan Aristotle (384-322sm) berkenaan kejadian alam telah banyak mencemar aqidah umat Islam melalui konsep wahdatul wujud dan Tasauf Falsafi. Mereka membawa
konsep Penjelmaan Tuhan dalam alam benda dan makhluk. Inilah asas agama Hindu.
Falsafah Plato mengganggap Tuhan sebagai satu roh yang sempurna. Dunia ini adalah pancaran sinar yang mengalir daripada Tuhan. Sinar akan kembali kepada Tuhan yang sentiasa sama. Tiada lain yang wujud melainkan Tuhan. Tidak ada pencipta atau makhluk Tuhan boleh diumpamakan sebagai lampu menyebabkan pancaransinar cahaya (yang merupa alam benda) iaitu alam benda adalah suatu penjelmaan “tuhan’ di alam raya. Prosess itu adalah prosess automatic (proses tajali) atau proses sebab musabab bukan proses iradah (kemahuan).
Guru Plato bernama Pythagorus (500sm) telah mengutarakan konsep hampir serupa bernama konsep ‘pemindahan arwah’(reinkarnasi) atau (transmigration of souls). Roh setiap makhluk berpindah daripada daripada satu jasad ke jasad yang lain. Konsep ‘Karma’ dan ‘Penjelmaan’ dalam agama Buddha dan Hindu ada kaitan yang rapat dengan konsep pemindahan arwah ini. Mazhab Yunani yang awal yang terkenal sebagai ‘Ionian’ percaya adanya Tuhan yang satu tetapi Tuhan itu wujud di dalam alam semesta (alam tabii). Penjelmaan tuhan dalam bentuk matahari adalah yang paling masyhur.
Yunani Purba percaya bahawa, tuhan matahari bernama ‘Mitra’ lahir pada 25hb December. Menurut Ensiklopedia Britannica “Perayaan hari lahir Jesus adalah bersumber dari adat Jahiliyah…25 December di Rom,adalah hari perayaan kelahiran tuhan matahari”. Menurut agama Yunani purba ini Tuhan matahari berehat pada hari Ahad, maka hari Ahad diisytiharkan sebagai hari matahari (Sunday) dan ia menjadi hari cuti am. Di zaman jahiliyyah Rom, mereka merayakan kelahiran Tuhan-tuhan matahari seperti Osiris, Horus, Hercules, Jupitor, Seturn dan Adonis.
b) Plato,Konsep Gnosis dan Kitab Berzanji
Pemikiran Plato banyak mempengaruhi pemikiran golongan mistik, sufi dan tasauf falsafi. Latihan-latihan kerohanian dilaksanakan bertujuan untuk bersemadi dengan tuhan. Antara latihan itu ialah bermeditasi berzikir dengan muzik sambil menari dengan rancak, mengadakan pergaulan haram (berjimak), berzikir sepanjang hari di dalam kelambu atau di dalam hutan rimba untuk meleburkan diri dalam tauhidullah (fana’ fillah). Pengaruh dari gnosis (makrifah) Neo Platonisme Yunani terdapat dalam falsafi. Pemikiran “gnosis” yang menghubungkan Allah dengan roh manusia (cara mistik) membawa kepada konsep ‘Hakikat Muhammadiyyah’ dan ‘insan al-kamil’. Ahli ahli tasauf yang menjadi mangsa pada pemikiran bahawa manusia boleh mencapai keperingkat ‘insan al-Kamil’ tersebut00 adalah seperti Hallaj Ibn Sab’n, Ibn Arabi dan lain-lain.
Di dalam ‘ Kitab Berzanji’ di penggal 1 baris 5 dan 6 boleh membawa erti bahawa Nabi s.a.w (Hakikat Mihammadiyyah) berpindah-pindah daripada satu jasad (moyang-moyang) ke jasad yang lain. Konsep ini serupa dengan konsep ‘reinkarnasi’ dalam agama Hindu.
Ia berbunyi :
“Kupohon semoga Allah mencucuri rahmat dan selamat kepada junjungan an yang Nurnya mulu-mula dijadfikan Allah di alam nyata. Nur yang berpindah dari keturunan demi keturunan, yang semuanya keturunan mulia.”
Sila lihat satu rajah di lampiran yang dipetik dari buku ‘Martabat Tujuh Tajalli (penampakan) Allah melalui Tujuh Martabat. Di keluarkan oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia, tahun 1998.Hlm 60.
Sumber Tasauf Falsafi lahir dari pemikiran mentakwilkan ayat al-Quran atau hadis menurut fahaman falsafah yang di istilahkan oleh mereka ‘takwil isyari’ ‘(metaphorical interpretation). Slogan meraka ialah ‘setiap zahir ada makna batin, setiap wahyu ada takwil’. Menurut mereka ayat al-Quran mengandunggi makna ibarat sahaja . Penganut tasauf falsafi berpendapat bahawa ilmu zahir membawa kepada syak dan zan. Makrifah sebenar ialah “pemerhatian batin”, mujahadah dan membersihkan jiwa. Golong tasauf ini melabelkan ulama hadis dan fiqah sebagai ulama zahir (ulama kulit). Ulama batin adalah ulama isi. Ulama batin mendapat ilmu dari laduni! Mereka dapat ilmu direct dari yang hidup “Tuhan”. Mereka tidak perlu ambil ilmu dari para ulama hadis yang sudah mati! Yang betulnya atau sebenarnya, mereka itu akan dapat ilmu dari bisikan syaitan atau syaitan dalam bentuk manusia. Ramai ulama Ahlus Sunnah telah menulis dan mendedahkan konspirasi (tipu helah) ini. Sila lihat rujukan-rujukan di akhir kertas kerja ini.
c) Aqidah Syiah
Ajaran Syiah ITSNA ASYARIYAH yang diikuti oleh pehak majoriti di Negara Iran kini banyak membawa aqidah karut batiniyyah seperti ketuhanan manusia. Adalah menjadi rukun aqidah ‘Syiah Imamiyyah’ bahawa para imamnya yang berjumlah dua belas itu adalah maksum (tidak mungkin berbuat salah) dan mereka tahu ilmu di alam ghaib, hingga tahu apa yang telah jadi dan apa yang akan terjadi (Al-Kulaini dalam buku Al-Kafi) Imam Khomeini, berkata:
“Imam-imam kami mencapai kedudukan yang tak dapat dicapai malaikat atau pun para Nabi yang diutus”. (Khomeni dalam buku ‘Al-Hukumatul Islamiyyah.’)
Mereka mengkafirkan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ahlus Sunnah dianggap najis, boleh dibunuh dan dirampas harta mereka seperti mana berlaku di Iraq, Labanon, Syria dan di Pakistan hari ini.
d) Kesimpulan
Kesimpulannya ajaran wahdatul wujud adalah aqidah yang asing dari Islam yang datang dari luar dan sedang mempengaruhi umat Islam, secara tahu atau tidak tahu hakikat aqidah itu.
Oleh itu pelajaran aqidah ahlus Sunnah wal Jamaah yang betul seperti mana dipegang oleh salaful ummah adalah suatu perkara sangat penting dan dharurah.Wallahu a’lam bis-sawab.
——————————————————————————————————
Rujukan
1) Imam Abu Jaafar Ath-Thahawi, (239 – 321H) seorang Ahli Fiqh dan Hafiz.Ibn Kathir dalam ‘Al-Bidayah wan Nihayah’ berkata “dia seorang penghafal,tepercaya dan pakar hadis”.
2) ‘Kitab Tauhid’ Dr. Salih Bin Fauzan . Terjemahan Hasan Bashori Darul Haq, Jakarta, 1999M, Hlm 41.
3) ‘Syarah Aqidah Ath-Thahawiyyah’ Ibid hal.21.
4) Ibid : Hlm 19
5) Kitab Tawhid Dr. Saleh Bin Fauzan. Ibid. Hlm 53.
Lampiran :1, 2, dan 3.
Buku Bacaan.
1. “Syiah” Kesesatan dan Penyelewengan oleh Sa’id Hawwa Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Alih Bahasa oleh Hj Ghazali. Pustaka Awan Press K. Bharu Kelantan, 1990.
2. “Khomeni A Moderate or a Fanatic Shi’ite.” Oleh Dr. Abdullah Muhammad Ghareeb. Alih Bahasa oleh Bilal Philips. Pustaka Ushamurni, K. Lumpur 1987.
3. “Sejarah Pemikiran 2”
Sulaiman Noordin, PPU, Univ Kebangsaan Malaysia, 1999.
4. “Martabat Tujuh”
Abdulfatah Haron Ibrahim. Jabatan Kemajuan Islam Malaysia. 1998.
5. “Tasauf Falsafah dan Wahdatul Wujud Menurut Islam” Prosiding Seminar. Badan Perkhidmatan Penerangan Islam Selangor Dan Wilayah Persekutuan (BPPI) (1999).
Sila lihat laman web www.salafimalaysia.com
6. “Terjemah Berzanji Maulidur – Rasul s.a.w. Amir Marzuki.Jabatan Agama Islam,Selangor – 1995.
Nota:
Para Ilmuan Islam yang masyhur yang terpengaruh dengan teori Emanasi (Penjelmaan)Yunani tersebut di atas termasuk Abu Nasr Muhammad al-Farabi, Ibn Rushd dan Ibn Sina. Mereka mentakwilkan makna ayat-ayat al-Quran sesuai dengan konsep kosmogoni Yunani. Umpamanya syurga ditakwilkan kepada suatu nikmat bukan suatu tempat hakiki.
sumber: http://www.salafimalaysia.com/
RASULULLAH S.A.W MENJAWAB MURJIAH & KHAWARIJ
OLEH: MUHAMMAD ASRIE BIN SOBRI
Dewasa ini telah muncul golongan yang menisbahkan diri mereka kepada Manhaj Salafi Ahlus Sunnah wal Jamaah tetapi menyeru kepada seruan Khawarij dan melabelkan Ahlus Sunnah wal Jamaah al-Salafiah yang sebenar sebagai Murjiah.
Namun, tidak guna jika kita saling berbantah-bantah dengan akal pemikiran masing-masing, maka amat wajar kita menyahut seruan Allah Taala:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
Maksudnya: “Maka jika kamu bertelagah dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul..” [al-Nisaa: 59].
Maka di sini kami datangkan seberapa banyak hadis-hadis Rasulullah s.a.w yang memerintahkan kita mentaati pemerintah dalam makruf dan perintah-perintah baginda untuk bersabar terhadap kezaliman mereka.
Jawapan Rasulullah s.a.w kepada Murjiah:
Khalifah al-Makmun pernah bertanya kepada al-Nadhr bin Syamil r.h berkenaan Murjiah lalu al-Nadhr menjawab: “Agama yang mengikut pemerintah, mereka membetulkan dengannya dunia mereka dan mengurangkan dengannya agama mereka”. [al-Bidayah wan Nihayah, 10/303].
Murjiah beranggapan bahawa maksiat tidak akan memudaratkan Iman bahkan sebahagian mereka melampau batas dengan mengatakan Iman tidak akan batal jika seseorang melakukan amalan syirik dan kufur akbar selama dia tidak menghalalkannya di dalam hati,- nauzubillahi minal jahli wad dolal-, atas dasar ini mereka akan mengikut sahaja semua perintah pemerintah walaupun ianya maksiat.
Ini berbeza dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang hanya akan taat pada perintah yang makruf dan mencegah daripada maksiat walaupun yang melakukannya seorang raja dan Khalifah.
Berikut kami datangkan hadis-hadis Rasulullah s.a.w yang memerintahkan kita supaya berpaling daripada perintah yang membawa kepada maksiat:
أنس بن مالك – رضي الله عنه – :أنَّ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قال : «اسْمَعوا وأطِيعوا وإِن استُعمِلَ عليكم عبدٌ حَبشيٌّ ، كأنَّ رأسَهُ زَبيبَةٌ ، مَا أقَامَ فيكُم كِتَابَ الله».وفي رواية : أنَّ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قال لأبي ذَرٍّ : «اسْمَعْ ، وأَطِعْ ، ولو لِحَبَشيٍّ ، كأنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ»
Maksudnya: Daripada Anas bin Malik r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: ‘Dengar dan Taatlah jika dilantik ke atas kamu (sebagai pemerintah) hamba habsyah yang kepalanya seakan-akan buah anggur selama mana dia menegakkan Kitab Allah’. Dan dalam riwayat yang lain: ‘Bahawa Rasulullah s.a.w bersabda kepada Abu Zarr r.a: ‘Dengar dan Taatlah walaupun kepada seorang Habsyi yang kepalanya seperti anggur’. [Hadis dikeluarkan: al-Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad].
أم الحصين الأحمسية – رضي الله عنها – قالت : حَجَجْتُ مَعَ رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم- حَجَّةَ الودَاعِ ، فَرأيتُهُ حِينَ رَمَى جَمْرَةَ العَقَبَةِ وانصَرَفَ ، وهو على راحِلَتِهِ ، ومعه بلالٌ وأُسَامَةُ : أَحَدُهُما يقودُ بِهِ رَاحِلَتَهُ ، والآخرُ رافعٌ ثَوبَهُ على رأسِ رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم- يُظِلُّهُ من الشمس، قالت: فقال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- قَولا كثيرا لم أفْهمهُ ، ثُمَّ سَمِعتُهُ يقولُ : «إِنْ أُمِّرَ عليكم عَبْدٌ مُجَدَّعٌ – حَسِبْتها قالت : أسودُ – يَقُودُكمْ بِكِتابِ اللهِ فَاسمعوا [لَهُ] وَأَطِيعوا».
Maksudnya: Daripada Ummul Husin al-Ahmasiah r.ha kata beliau: ‘Aku berhaji bersama dengan Rasulullah s.a.w pada Haji Wada’, maka aku lihat baginda sedang melontar Jamrah al-‘Aqabah lalu beredar sedang dia menunggang tunggangannya bersama dengan baginda Bilal dan Usamah: Salah seorang mereka sedang memacu tunggangan baginda dan seorang lagi melindungi baginda dengan kain daripada matahari. Kata beliau (Ummul Husin): Maka Rasulullah s.a.w bersabda dengan perkataan yang banyak yang aku tidak faham kemudian aku mendengar baginda berkata: “Jika dijadikan pemerintah ke atas kamu seorang hamba yang terpotong hidungnya –Aku (rawi) merasakan dia berkata-: berkulit hitam memimpin kamu dengan Kitab Allah maka dengar padanya dan taatlah”. [Hadis dikeluarkan: Muslim, al-Tarmizi, dan al-Nasai. Lafaz bagi Muslim].
عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – : أنَّ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «على المرء المسلم السَّمعُ والطاعَةُ فيما أحَبَّ أو كَرِهَ ، إِلا أَنْ يُؤمَرَ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِن أُمِرَ بِمعصيةٍ، فلا سَمْعَ ، ولا طَاعَةَ
Maksudnya: Daripada Abdullah bin Umar r.hma bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Wajib atas setiap muslim dengar dan taat (kepada pemerintah) dalam urusan yang dia suka atau benci melainkan dia disuruh melakukan maksiat maka jika dia disuruh melakukan maksiat maka tidak wajib dengar dan tidak wajib taat”. [Hadis dikeluarkan: al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tarmizi, al-Nasai, dan Ahmad].
Daripada Saidina Ali r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda:
إنما الطاعة في المعروف
Maksudnya: “Sesungguhnya Taat itu dalam perkara makruf sahaja”. [al-Bukhari & Muslim].
طارق بن شهاب – رضي الله عنه – أن رجلاً سأل النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وقد وضَعَ رِجْلَهُ في الغَرْزِ : أيُّ الجهادِ أفضلُ ؟ قال : «كلمةُ حقٍ عند سلطان جائر»
Maksudnya: Daripada Tariq bin Syihab r.a bahawa seorang lelaki bertanya kepada Nabi s.a.w sedang baginda telah meletakkan kaki baginda di atas tempat tunggangan: ‘Apakah Jihad yang utama?’ Jawab baginda: “Perkataan yang benar di sisi pemerintah yang zalim”. [Hadis dikeluarkan: al-Nasai, darjatnya hasan].
Hadis-hadis ini dengan jelas menunjukkan bahawa ketaatan kepada pemerintah dan sesiapa sahaja yang daripada makhluk hanya berlaku dalam urusan yang sesuai dengan syariat sahaja, apabila urusan itu tidak sesuai dengan syariat maka haram untuk kita mentaati perintah itu.
Bahkan wajib kita berkata benar dan mencegah kezaliman pemerintah walaupun akan menggadai nyawa kita dan teladan ini amat banyak dalam tokoh-tokoh Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah antaranya al-Imam Malik bin Anas r.h, al-Imam al-Syafii r.h, dan al-Imam Ahmad r.h.
Imam Malik bin Anas r.h telah disiksa sehingga tercabut tulang bahunya kerana beliau mempertahankan bahawa baiah rakyat kepada pemerintah mereka akan taat untuk menceraikan isteri mereka jika disuruh adalah bidaah dan tidak sah sebagaimana yang telah sahih dalam Sunnah. [Siyar A’lam al-Nubala’, 8/79-80].
Imam Ahmad bin Hanbal r.h amat terkenal dengan ketegasan beliau mempertahankan Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bahawa al-Quran adalah Kalamullah bukan Makhluk sehingga beliau disiksa dan dipenjarakan dengan begitu lama sekali. [Lihat kisah beliau dalam Siyar juz 11].
Jawapan Rasulullah s.a.w kepada Khawarij
Apabila Ahlus Sunnah wal Jamaah menyatakan bahawa haram mentaati pemerintah apabila dia menyuruh melakukan maksiat, segolongan kaum pula melampau sehingga mereka berpandangan wajib memerangi pemerintah yang melakukan maksiat atau berlaku zalim itu.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di pertengahan antara kecuaian Murjiah dan sikap melampau Khawarij, di mana Ahlus Sunnah wal Jamaah menyatakan haram mentaati perintah yang maksiat namun tidak boleh (haram) memerangi pemerintah selagi mana dia tidak menjadi kafir dan menjaga penegakkan solat.
Berikut adalah jawapan Rasulullah s.a.w kepada Khawarij:
عن ابن أبي أوفى قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: الخوارج كلاب أهل النار
Maksudnya: Daripada Ibn Abi Aufa r.a kata beliau: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “al-Khawarij adalah anjing-anjing ahli neraka”. [al-Sunnah Ibn Abi Asim,Sahih-Zilal al-Jannah-]
عن عبادة بن الصامت عن النبي صلى الله عليه وسلم قال اسمع وأطع في عسرك ويسرك ومنشطك ومكرهك وأثره عليك وإن أكلوا مالك وضربوا ظهرك
Maksudnya: Daripada Ubadah bin al-Somit r.a daripada Nabi s.a.w baginda bersabda: “Dengar dan Taatlah ketika susah dan senang, rela dan terpaksa, dan ketika keadaan yang merugikan kamu walaupun mereka (pemerintah) merampas hartamu dan memukul belakangmu”. [al-Sunnah Ibn Abi Asim –Zilal al-Jannah- Sahih].
عبد الله بن عباس – رضي الله عنهما – : أنَّ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال : «مَنْ كَرِهَ مِنْ أمِيرِهِ شَيْئا فَلْيَصبِرْ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِن السُّلطانِ شِبرا مَاتَ مِيتَة جَاهِليَّة». وفي رواية : «فَليَصبِرْ عليه ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبرا فَمَاتَ فَمِيتَتُهُ جَاهِليَّةٌ»
Maksudnya: Daripada Abdullah bin Abbas r.hma bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesiapa yang membenci akan pemerintahnya kerana sesuatu maka bersabarlah kerana sesiapa yang keluar daripada pemerintah sekadar sejengkal dia mati dalam keadaan jahiliah”. Dalam riwayat yang lain: “maka hendaklah dia bersabar, kerana sesungguhnya sesiapa yang berpisah daripada al-Jamaah sekadar sejengkal maka dia mati dalam keadaan jahiliah”. [Hadis dikeluarkan: al-Bukhari & Muslim].
أم سلمة – رضي الله عنها – أنَّ رَسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قال : «إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عليكُمْ أُمَرَاءُ ، فَتعرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ ، فَمَنْ كَرِهَ فَقد بَرِئ ، وَمَن أَنْكَرَ فقد سَلِمَ، ولكن مَنْ رَضي وتَابَعَ» ، قالوا : أفَلا نُقَاتِلُهمْ ؟ قال : «لا ، مَا صَلُّوا».
Maksudnya: Daripada Ummu Salamah r.ha bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya akan memerintah kamu nanti pemerintah-pemerintah, maka (ada perbuatan mereka) yang kamu setujui dan ada yang kamu ingkar, maka sesiapa yang membenci (maksiat yang mereka lakukan) dia telah terlepas (daripada azab), sesiapa yang mengingkarinya dia selamat, tetapi sesiapa yang reda dan mengikut (maka dia termasuk orang yang bersubahat)”. Mereka (Sahabat) berkata: ‘Apa tidak patutkah kami memerangi mereka (pemerintah)?’ Jawab baginda: “Tidak boleh selagi mereka bersolat”. [Hadis dikeluarkan: Muslim, Abu Daud, dan al-Tarmizi dan lafaz pada Muslim].
عوف بن مالك – رضي الله عنه – : قال : سمعتُ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- يقول:«خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ : الذين تُحبُّونَهُمْ ويُحبونَكُمْ ، وَتُصَلُّونَ عليهم ، ويُصَلُّونَ عليكم ، وَشِرارُ أَئِمَّتِكُمُ : الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ، وَيُبْغِضُونَكمْ ، وتَلْعَنُونَهُم ، وَيلْعَنُونَكم» قال : قُلنا : يا رسول الله ، أفَلا نُنابِذُهم [ عند ذلك ؟] ، قال : «لا ، ما أقاموا فيكم الصلاةَ ، لا ، ما أقاموا فيكم الصلاةَ ، ألا مَنْ وَلِيَ عليهِ وَالٍ ، فرآهُ يَأْتي شَيئا مِنْ مَعصيةِ اللهِ ، فليكره ما يأتي من معصية الله، ولا يَنْزِعَنَّ يَدا من طَاعَةٍ»
Maksudnya: Daripada Auf bin Malik r.a: Kata beliau: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kamu adalah yang kamu sukai mereka itu dan mereka menyukai kamu, kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakan kamu, dan seburuk-buruk pemimpin kamu adalah yang kamu benci mereka itu dan mereka membenci kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu”. Berkata beliau (Auf): Kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah tidak boleh kami memerangi mereka ketika itu?’ Jawab baginda: “Tidak boleh selagi dia mendirikan dalam kalangan kamu solat, tidak boleh selagi dia menegakkan dalam kalangan kamu solat, sesungguhnya sesiapa memerintah atasnya seorang pemerintah lalu dia melihatnya (pemerintah tersebut) melakukan sesuatu yang maksiat kepada Allah maka bencilah dia atas apa yang dia lakukan daripada maksiat kepada Allah namun jangan dia mencabut tangan daripada ketaatan”. [Hadis dikeluarkan: Muslim dan Ahmad].
عبد الله بن مسعود – رضي الله عنه – : قال : قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «إِنَّها ستكُونُ بعدي أَثَرَةٌ ، وَأُمُورٌ تُنكِرُونَها» قالوا : يا رسولَ الله ، كيفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ ذلك مِنّا؟ قال : «تُؤدُّونَ الحَقَّ الذي عليكم ، وتَسألُونَ اللهَ الذي لكم»
Maksudnya: Daripada Abdullah bin Masud r.a kata beliau: Telah bersabda Rasulullah s.a.w: “Sesungguhnya akan berlaku selepasku nanti perkara yang sukar dan perkara-perkara yang kamu ingkari”. Kata mereka (Sahabat): ‘Apakah yang kamu perintahkan kepada sesiapa antara kami yang menjumpainya?’ Kata baginda: “Kamu tunaikan hak yang ada atas kamu (mentaati pemerintah dalam makruf) dan kamu mintalah hak kepunyaan kamu kepada Allah”. [Hadis dikeluarkan: Al-Bukhari, Muslim, dan al-Tarmizi].
Maksud أَثَرَةٌ dalam hadis ini adalah kaum pemerintah yang akan melebihkan diri mereka dalam urusan harta dan sebagainya (memakan harta secara zalim). [Jami’ul Usul, Ibn al-Athir].
وائل بن حُجر – رضي الله عنه – :قال : سَألَ سَلَمَةُ بْنُ يَزِيدٍ الجُعفيُّ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قال : يا نَبيَّ اللهِ ، أرَأيتَ إنْ قَامَتْ علينا أُمرَاءُ يَسألُونَا حَقَّهم ، ويَمنعونَا حَقَّنا، فما تَأْمُرنا ؟ فأعْرَضَ عنه ، ثم سأله ، فَأعرَضَ عَنْه ، ثم سأله في الثانية – أو في الثَّالِثَةِ – فَجَذَبَهُ الأشعَثُ بنُ قَيسٍ ، فقال : «اسْمعوا وأطِيعُوا ، فإنَّما عليهم مَا حُمِّلُوا ، وعليكم ما حُمِّلْتُم»
Maksudnya: Daripada Wail bin Hujr r.a kata beliau: Telah bertanya Salamah bin Yazid al-Ju’fi r.a Rasulullah s.a.w kata beliau: ‘Wahai Nabi Allah, apakah pandanganmu jika nanti berdiri pada kami pemerintah-pemerintah yang meminta hak mereka (ketaatan dan baiah) dan menghalang hak kami (daripada keadilan dan bermuamalah dengan baik) maka apakah perintahmu?’ lalu baginda berpaling daripadanya kemudian dia bertanya lagi, maka baginda berpaling daripadanya, kemudian dia bertanya lagi pada kali yang kedua atau ketiga lalu ditarik oleh al-Asy’as bin Qais r.a lalu baginda Rasulullah s.a.w berkata: “Dengarlah dan taatlah kerana sesungguhnya atas mereka apa yang mereka dipertanggungjawabkan dan atas kamu apa yang kamu dipertanggungjawabkan”. [Hadis dikeluarkan: Muslim dan al-Tarmizi].
عن جنادة بن أبي أمية قال : دخلنا على عبادة بن الصامت وهو مريض قلنا أصلحك الله حدث بحديث ينفعك الله به سمعته من النبي صلى الله عليه و سلم قال دعانا النبي صلى الله عليه و سلم فبايعناه فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان
Maksudnya: Daripada Junadah bin Abi Umayyah kata beliau: Kami masuk menemui Ubadah bin al-Somit r.a ketika beliau jatuh sakit, kami berkata: Semoga Allah memperelokkan keadaan kamu, sampaikan kepada kami hadis yang mudah-mudahan Allah manfaatkan untuk mu dengannya yang kamu dengar daripada Nabi s.a.w. Kata beliau (Ubadah): ‘Telah memanggil kami akan Nabi s.a.w maka kami membaiat baginda lalu berkata lagi: Antara apa yang baginda ambil baiat atas kami: Kami berbaiat untuk dengar dan taat (pada pemimpin) dalam keadaan rela dan paksa, susah dan senang, dan keadaan yang merugikan kami dan jangan kami mencabut urusan daripada empunyanya melainkan kamu melihat kufur yang jelas yang ada pada kamu daripada Allah bukti’. [Hadis dikeluarkan: al-Bukhari dan Muslim].
Semua hadis ini menunjukkan walaupun kita dilarang mengikut pemerintan dalam urusan maksiat namun hendaklah kita bersabar akan kezaliman mereka dan terus menasihati mereka serta tidak mengangkat pedang kepada mereka (yakni memberontak tidak kira apa bentuknya sekalipun).
عَنْ تَميمٍ الدَّاريِّ – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال : (( الدِّينُ النَّصيحَةُ ثلاثاً )) ، قُلْنا : لِمَنْ يا رَسُولَ اللهِ ؟ قالَ : (( للهِ ولِكتابِهِ ولِرَسولِهِ ولأئمَّةِ المُسلِمِينَ وعامَّتِهم ))
Maksudnya: Daripada Tamim al-Dari r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda: “Agama itu nasihat (sebanyak tiga kali)”,kami berkata: ‘Kepada siapa wahai Rasulullah ?’ Jawab baginda: “Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin, dan Umum mereka”. [Hadis dikeluarkan: Muslim].
Para Sahabat ridwanullahi ‘alaihim ajma’in telah bersetuju untuk taat kepada pemerintah muslim selama mereka tidak melakukan kekufuran dan menjadi kufur kerana perlakuannya itu bahkan mereka menasihati pemimpin mereka dengan baik walaupun akan menyebabkan mereka terbunuh.
عن الزبير بن عدي قال : أتينا أنس بن مالك فشكونا إليه ما يلقون من الحجاج فقال اصبروا فإنه لا يأتي عليكم زمان إلا الذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم سمعته من نبيكم صلى الله عليه و سلم
Maksudnya: Daripada al-Zubair bin ‘Adi kata beliau: Kami datang berjumpa Anas bin Malik r.a maka kami mengadu kepada beliau berkenaan apa yang menimpa kami daripada al-Hajjaj lalu beliau berkata: “Bersabarlah, kerana sesungguhnya tidak akan datang atas kamu zaman kecuali selepasnya lebih buruk daripada sebelumnya sehingga kamu berjumpa Tuhan kamu, aku telah mendengar ini daripada Nabi kamu s.a.w”. [al-Bukhari].
عن سويد بن غفلة قال : قال لي عمر بن الخطاب رضي الله عنه : « لا أدري لعلك أن تخلف بعدي فأطع الإمام ، وإن أمر عليك عبد حبشي مجدع ، وإن ظلمك فاصبر ، وإن حرمك فاصبر ، وإن دعاك إلى أمر ينقصك في دنياك فقل : سمعا وطاعة ، دمي دون ديني »
Maksudnya: Daripada Suwaid bin Ghaflah kata beliau: Berkata kepadaku Umar bin al-Khattab r.a: “Aku tidak tahu mudah-mudahan engkau akan hidup lagi selepasku, maka taatlah kepada pemerintah walaupun seorang hamba habsyi yang terpotong hidungnya dan jika dia menzalimi kamu sabarlah, jika dia menghalang hakmu maka sabarlah, jika dia memerintah kamu sesuatu yang merosakkan duniamu maka katakanlah: “Aku dengar dan taat, ambil lah darahku bukan agamaku”. [al-Syariah, al-Ajurri 1/82].
Imam al-Ajurri r.h menjelaskan maksud hadis ini adalah apabila pemerintah kamu tidak kira siapa dia asalkan seorang muslim melakukan kezaliman maka sabarlah, jangan kamu memberontak kepadanya dan jika dia menyuruh melakukan maksiat maka jangan kamu ikuti bahkan jika dia mengugut untuk membunuh kamu sekalipun maka mati itu lebih baik. [Ibid].
Maka di sini jelaslah bahawa Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan kaum pertengahan antara dua bidaah bagaikan susu yang mengalir antara darah dan tinja, pertengahan antara Murjiah yang taat membabi buta dan Khawarij yang memberontak tanpa mengira keadaan.
Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan penuh bahawa pemerintah itu selagi dia muslim dan menegakkan syiar Islam yang utama seperti solat maka dia tidak boleh digulingkan dengan kekerasan. Jika dia menyuruh kepada maksiat hendaklah diinkari dan dinashati secara baik bukan dihunuskan pedang memberontak kepadanya.
Oleh itu, insaflah wahai kaum muslimin dan kembalilah kepada Sunnah Rasululullah s.a.w dan berhukumlah kamu dengan apa yang diturunkan oleh Allah Taala kepada kamu. Janganlah kerana kamu ghairah untuk mendapatkan kuasa kamu sanggup memperkudakan Syariat Islam yang mulia ini.
Saya menyeru kepada mereka yang telah terlajak lisan menuduh Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai Murjiah untuk segera bertaubat dan kembali lah kepada pangkuan kebenaran, janganlah mencari-cari kesalahan ‘alim untuk menolak kebenaran seorang Rasul Allah, al-Sodiq al-Masduq. Wallahua’lam.
Rujukan:
Jamiul Usul fi Ahadis al-Rasul, Ibn al-Athir
Zilalul Jannah fi Takrij al-Sunnah, Muhammad Nasir al-Din al-Albani
Al-Syariah, Abul Husain al-Ajurri.
sumber: http://mashoori.wordpress.com/2009/07/28/rasulullah-s-a-w-menjawab-murjiah-khawarij/
MANHAJ AHLI SUNNAH WAL JAMAAH TERHADAP PEMIMPIN YANG ZALIM
Oleh: Muhammad Asrie bin Sobri
Artikel ringkas ini akan cuba menjelaskan manhaj yakni kaedah Ahli Sunnah wal Jamaah dalam bermuamalah atau berhubungan dan bergaul dengan pemimpin yang zalim.
Ahli Sunnah wal Jamaah (ASWJ) meletakkan permasalahan berkenaan pemimpin ini dalam bab akidah melambangkan betapa pentingnya isu kepimpinan ini sekaligus menafikan dakwaan bahawa Islam adalah agama sekular yang mengasingkan agama daripada politik. Fahaman sekular amat menyelweng daripada akidah Islam keran Islam melihat politik sebagai masalah akidah yang perlu dipelihara.
Pemahaman politik yang terkeluar daripada manhaj ASWJ akan melahirkan kesesatan dalam perkara akidah. Sebagai contoh ajaran Syiah Rafidah yang bukan sekadar sesat bahkan kafir adalah berpunca daripada pergolakan politik.
Selain itu, masalah bagaimana kita perlu bermuamalah dengan pemimpin muslim yang zalim juga termasuk dalam akidah al-Wala’ wa al-Bara’ (Cinta dan Benci kerana Allah) yang merupakan ikatan iman yang paling teguh.
Pemimpin yang muslim yang melakukan kezaliman termasuklah dalam kategori kedua manusia dalam akidah al-Wala’ wa al-Bara’ iaitu mereka yang berhak mendapat al-wala’ (kesetiaan) dan al-Bara’ (berlepas diri) sekaligus. Berikut kita jelaskan noktah-noktah penting dalam manhaj ini:
Pertama: Mentaati Pemerintah Adalah Wajib ‘Ain
Mentaati pemerintah kaum muslimin yang beragama Islam adalah fardu ‘ain berdalilkan firman Allah s.w.t dalam surah alp-Nisaa ayat ke-59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Maksudnya: “Wahai orang-orang Yang beriman, Taatlah kamu kepada Allah dan Taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Qur’an) dan (Sunnah) RasulNya – jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu), dan lebih elok pula kesudahannya”.
Kewajipan taat kepada pemimpin kaum muslimin adalah perkara ijmak dalam kalangan ASWJ bahkan para ulama juga telah ijmak wajibnya memerangi kaum bughah yakni mereka yang menentang pemimpin Islam secara bersenjata.
Kedua: Haram Mentaati Perintah Yang Maksiat
Demikian juga telah ijmak ulama haram terhadap muslim mengikut perintah pemimpin yang membawa kepada maksiat. Ini berdasarkan ayat di atas (surah al-Nisaa: 59) yang mengqaidkan (mengikat) ketaatan kepada pemimpin itu dengan ketaatan kepada Allah s.w.t. Demikian juga sabda Rasulullah s.a.w:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Maksudnya: “Ketaatan itu sesungguhnya hanya dalam perkara makruf” [Muttafaq 'Alaih].
Dan sabda Nabi s.a.w:
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
Maksudnya: “Dengar dan Taat itu wajib atas setiap muslim dalam perkara yang dia suka dan benci selama tidak disuruh melakukan maksiat maka apabila dia (pemimpin) menyuruh melakukan maksiat maka tidak boleh dia dengar dan tidak boleh dia taat” [Muttafaq 'alaih].
Antara contoh dalam tidak mentaati perkara maksiat adalah sebagaimana hadis dalam sahih al-Bukhari dan Muslim bahawa seorang panglima perang yang dilantik Rasulullah s.a.w dalam satu sariah memerintahkan para prajuritnya untuk masuk dalam api lalu mereka semua enggan. Sehingga akhirnya kemarahan panglima mereka reda dan api pun padam, mereka pulang ke Madinah dan mengadukan hal itu kepada Rasulullah s.a.w lalu baginda berkata: “Jika kamu masuk ke dalamnya tentulah kamu tidak akan keluar lagi, sesungguhnya taat itu hanya dalam perkara makruf”.
Ketiga: Wajib Menasihati Pemimpin Yang Zalim.
Ini berdasarkan sebuah hadis yang sahih lagi masyhur:
الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم
Maksudnya: “Agama itu adalah Nasihat”. Kami (Sahabt) bertanya: ‘Untuk siapa?’ Jawab baginda: “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan awam mereka”. [Muslim].
Dan sabda Nabi s.a.w:
أفضل الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر
Maksudnya: “Jihad yang Afdal adalah perkataan yang benar di sisi pemimpin yang zalim” [Abu Daud, al-Tarmizi, al-Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad dan hadisnya sahih].
Nasihat kepada pemimpin itu hendaklah dilakukan dengan bahasa yang paling baik dan paling lunak serta dalam keadaan yang terhormat serta haram mencela dan mengaibkan pemimpin depan khalayak ramai berdasarkan firman Allah s.w.t:
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)
Maksudnya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, Sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kekufurannya. “Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, dengan kata-kata yang lemah-lembut, semoga ia beringat atau takut”. [Taha: 43&44].
Istidlalnya adalah jika kepada Firaun yang kafir pun Allah s.w.t memerintahkan Nabi Musa a.s dan Nabi Harun a.s bercakap secara lemah lembut maka lebih utama lagi dilakukan kepada pemimpin Islam.
Sabda Nabi s.a.w:
من أراد أن ينصح لذى سلطان بأمر فلا يبدله علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فان قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذى عليه
Maksudnya: “sesiapa yang hendak menasihati pemimpin akan sesuatu urusan maka janganlah dia melakukannya terang-terangan tetapi pegnaglah tangannya dan bersendirianlah dengannya (lalu nasihatlah), jika dia (pemimpin) menerimanya maka demikianlah yang dikehendaki, jika tidak maka dia telah melaksanakan tanggungjawabnya”. [Ahmad, sahih].
Dalam hadis ini menjelaskan wajibnya menasihati pemimpin dan wajib pula melakukannya dengan cara yang baik. Dalam sebuah riwayat dinyatakan:
عن زياد بن كسيب العدوي قال كنت مع أبي بكرة تحت منبر ابن عامر وهو يخطب وعليه ثياب رقاق فقال أبو بلال : أنظروا إلى أميرنا يلبس ثياب الفساق فقال أبو بكرة اسكت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله
Maksudnya: Daripada Ziyad bin Kasib al-Adwi katanya: Aku bersama Abu Bakrah di bawah minbar Ibn Amir ketika dia sedang berkhutbah dengan memakai pakaian yang nipis maka berkata Abu Bilal: ‘Lihat pemimpin kita itu, dia memakai pakaian orang fasiq’. Maka berkata Abu Bakrah r.a: Diamlah, aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesiapa yang menghina Sultan Allah di bumi maka Allah akan menghinanya”. [al-Tarmizi, sahih].
Oleh itu, jelas sekali dalam manhaj Syarak yang benar, perbuatan berdemonstrasi dan protes jalanan membantah pemimpin yang zalim adalah maksiat dan perbuatan itu hanyalah menambah dosa atas dosa semata-mata.
Abu Ishaq al-Sabi’i r.h, daripada pembesar ulama Tabiin berkata:
ما سب قوم أميرهم، إلا حرموا خيره
Maksudnya: “Tidak ada suatu kaum yang mencerca pemimpin mereka melainkan akan terhalang daripada mendapat kebaikannya”. [al-Tamhid, Ibn Abdil Barr, al-Fitan, Abu Amru al-Dani].
Keempat: Haram Memberontak dan Menggulingkan Pemerintah Yang Zalim
Walaupun disuruh kita tidak mengikuti perintah yang berunsur maksiat, namun pemimpin yang menyuruh melakukan maksiat atau melakukan maksiat hanya wajib dinasihati secara baik dan tidak boleh digulingkan dengan kekerasan atau menderhaka kepadanya. Sabda Rasulullah s.a.w:
Dalilnya hadis Muslim dan Ahmad berikut:
عن عوف بن مالك عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم ويصلون عليكم وتصلون عليهم وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم وتلعنونهم ويلعنونكم ) قيل يا رسول الله أفلا ننابذهم بالسيف ؟ فقال ( لا ما أقاموا فيكم الصلاة وإذا رأيتم من ولا تكم شيئا تكرهونه فاكرهوا عمله ولا تنزعوا يدا من طاعة )
Maksudnya: Daripada Auf bin Malik daripada Rasulullah s.a.w sabda baginda: “Sebaik-baik pemimpin kamu adalah yang kamu suka dan mereka menyukai kamu, kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakan kamu, seburuk-buruk pemimpin kamu adalah yang kamu benci dan mereka benci kepada kamu, kamu melaknapt mereka dan mereka melaknat kamu”. Kata para sahabat: ‘wahai Rasulullah, apakah tidak boleh kami memerangi mereka?’ Jawab baginda: “Tidak boleh selagi dia mendirikan solat dalam kalangan kamu dan jika kamu melihat pemimpin kamu melakukan sesuatu yang dia benci maka bencilah amalannya tetapi jangan cabut tangan dari mentaatinya (dalam makruf)”.
Hadis ini tidaklah menunjukkan bolehnya melaknat pemimpin kerana tidak boleh sama sekali melaknat seseorang muslim tetapi melaknat amalan pemimpin tersebut.
Sabda Rasulullah s.a.w:
(ستكون أمراء فتعرفون وتنكرون فمن عرف برئ ومن نكر سلم ولكن من رضي وتابع ) قالوا أفلا نقاتلهم ؟ قال ( لا ما صلوا )
Maksudnya: “Akan ada nanti pemimpin-pemimpin yang kamu suka amalan mereka dan ada yang kamu benci (kerana ianya maksiat), sesiapa yang mengenal pasti maksiat yang dilakukan maka dia terlepas, sesiapa yang ingkar dia selamat, tetapi (yang binasa) adalah yang reda dan mengikut”. Para Sahabat berkata: ‘Apakah tidak boleh kami memerangi mereka?’ Kata baginda: “Tidak boleh selagi mereka bersolat”. [Muslim, Abu Daud, al-Tarmizi, Ahmad].
Daripada Huzaifah bin al-Yaman r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:
( يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس ) قال قلت كيف أصنع ؟ يا رسول الله إن أدركت ذلك ؟ قال ( تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع )
Maksudnya: “Akan ada selepasku pemimpin-pemimpin yang tidak mengikut petunjukku dan tidak mengikut sunnahku dan akan ada dalam mereka lelaki-lelaki yang berhati syaitan berbadan manusia”. Kata Huzaifah:’Aku bertanya: Maka bagaimana aku harus lakukan wahai Rasulullah?’ Jawab baginda: “Kamu dengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia menyebat belakangmu dan merampas hartamu, dengar dan taatlah”. [al-Bukhari & Muslim, lafaz bagi Muslim].
Sabda Rasulullah s.a.w:
مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Maksudnya: “Sesiapa yang membenci akan perbuatan pemimpinnya (yang maksiat) maka bersabarlah kerana sesungguhnya sesiapa yang keluar menentang pemerintah sejengkal lalu mati, maka dia mati sebagai orang jahiliah”. [al-Bukhari & Muslim]
Syarat untuk keluar memberontak adalah apabila pemimpinnya menjadi kafir maka ketika itu wajib atas kaum muslimin melucutkan jawatannya dengan cara yang paling elok dan jika tidak ada jalan lain melainkan perang maka hendaklah berperang jika tidak hendaklah mereka berhijrah. [Syarah Tahawiyah min Kalam Ibn Taimiah, 86&87].
Ini sebagaimana sabit dalam hadis al-Bukhari dan Muslim daripada Ubadah bin al-Samit r.a katanya:
دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
Maksudnya: “Rasulullah s.a.w memanggil kami lalu baginda mengambil baiat daripada kami dan antara yang baginda syaratkan adalah dengar dan taat (pada pemimpin) dalam perkara yang kami suka dan benci (selagi bukan maksiat), dalam keadaan senang dan susah kami dan dalam perkara yang merugikan kami dan janganlah kami menandingi hak ahlinya melainkan kamu melihat kufur yang jelas yang padanya kamu mempunyai dalil di hadapan Allah nanti”.
Berkata al-Qadi ‘Iyadh r.h:
لو طرأ عليه الكفر انعزل
Maksudnya: “Jika dia (pemimpin) menjadi kafir (nauzubillah min zalik) maka dia terlucut jawatan..” [Syarah Sahih Muslim li al-Nawawi, 12/229].
Berkata Imam Abul Hasan al-Asy’ari r.h:
ونرى الدعاء لأئمة المسلمين بالصلاح والإقرار بإمامتهم وتضليل من رأى الخروج عليهم إذا ظهر منهم ترك الاستقامة
وندين بإنكار الخروج بالسيف وترك القتال في الفتنة
Maksudnya: “dan kami berkeyakinan wajibnya mendoakan kebaikan bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan kestabilan pemerintahan mereka serta menyesatkan sesiapa sahaja yang berpendapat bolehnya menderhaka kepada pemimpin yang zalim dan kami beriman haramnya memberontak dengan senjata dan kami beriman perlu meninggalkan berperang dalam fitnah”. [al-Ibanah, 1/11].
Jelas daripada kenyataan Imam al-Asy’ari ini, ASWJ bersepakat haramnya memberontak kepada pemerintah selama dia muslim dan beriman walaupun dia melakukan maksiat dan berlaku zalim.
Analoginya mudah, apabila ibu bapa kita melakukan maksiat atau menyuruh kita melakukan maksiat maka kita wajib mengingkari maksiat tersebut tetapi kita tidak boleh memutuskan nasab kita dengan mereka.
Imam Abu Jaafar al-Tahawi r.h menyatakan dalam kitab Aqidah beliau:
-”ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أمورنا وإن جاروا ولا ندعو عليهم ولا ننزع يدا من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضة، ما لم يأمروا بمعصية، وندعو لهم بالصلاح والمعافاة.”
Maksudnya: “dan kami tidak percaya sama sekali bolehnya keluar menetang pemerintah walaupun mereka berlaku zalim dan kami tidak akan mendoakan keburukan atas mereka dan tidak akan menderhaka pada mereka bahkan kami berpendapat mentaati mereka termasuk taat kepada Allah Azza wa Jall dan ianya fardu (wajib) selama mereka tidak menyuruh melakukan maksiat dan kami mendoakan bagi mereka kebaikan dan kemapunan”. [Syarah Tahaiwah min Kalam Ibn Taimiah, 85].
Contoh Ulama al-Salaf dalam Berhadapan Kezaliman Pemimpin
Imam Abu Hanifah r.h: Beliau telah dipenjarakan oleh Khalifah al-Mansur al-Abbasi hanya kerana tidak mahu menerima jawatan Qadi (Hakim). Abu Hanifah r.h tidak pernah sama sekali membenarkan kaum muslimin menentang atau memberontak terhadap al-Mansur sehingga beliau wafat dalam penjara.
Imam Malik bin Anas r.h: Di zaman beliau terdapat pemberontakan terhadap al-Mansur (yakni Khalifah al-Mansur yang menghukum Abu Hanifah tadi) kemudian pemberontak ini berjaya menawan Madinah dan dipaksa untuk membaiat pemimpin mereka. Imam Malik enggan menderhaka pada Khalifah dan sanggup diseksa walaupun diketahui al-Masnur seorang yang zalim.
Imam al-Syafii r.h: Beliau telah ditangkap dan ditahan tanpa usul periksa dan dituduh sebagai pemberontak oleh Khalifah Harun al-Rasyid r.h, namun Imam Syafii setelah dibebaskan tidak pernah berdendam dengan khalifah bahkan sentiasa mendoakan kebaikan buat beliau.
Imam Ahmad bin Hanbal r.h: Khalifah al-Makmun dan al-Muktasim telah menyiksa beliau kerana keengganan menurut perintah maksiat mereka mengatakan al-Qur’an makhluk. Namun, Imam Ahmad melarang para pengikutnya yakni ASWJ memberontak.
Kesimpulan
Apa yang kami bentangkan ini semuanya berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih, bukanlah berdasarkan hawa nafsu dan emosi. Kami menasihatkan kaum muslimin yang kami cintai sekalian untuk berpegang teguh dengan Manhaj ASWJ ini dalam semua aspek kehidupan mudah-mudahan kita berjaya dunia dan akhirat.
Ingatlah, Umat Muhammad yang diakhir zaman ini tidak akan berjaya melainkan mereka mengikut jejak langkah yang telah dilalui oleh pendahulu mereka yang soleh yang telah berjaya dunia dan akhirat. Wallahua’lam.
sumber: http://mashoori.wordpress.com/
APAKAH ITU SALAF?
oleh: Abu Ayyub Muhammad Fashan bin Ahmad Ziadi
Ramai di kalangan para penuntut ilmu yang terkeliru apabila disebut kepada mereka tentang perkataan salaf, pelbagai definisi dan takrif yang keluar dari mulut-mulut kebanyakan mereka.Dalam permasalahan ini mereka terbahagi kepada beberapa kelompok yang masing-masing cuba menafsirkan golongan yang membawa panji-panji al-Quran, al-Sunnah dan kefahaman salaf al-soleh dengan pelbagai label seperti golongan wahhabi, golongan muda, salafi wahabi, salafi ekstrim,pemecah belah dan pelbagai label lagi.
Apa itu Salaf dan siapa Salafi?
Salaf menurut bahasa arab bermaksud golongan atau kaum terdahulu(nenek moyang)[1] ataupun sesiapa sahaja yang mendahului kita sama ada ibu bapa kita atau kaum kerabat kita[2]
Menurut istilah pula,Salaf bermaksud generasi pertama dan terbaik dari kalangan umat Islam, yang terdiri dari Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam, para Sahabat, Tabi`in, Tabi` at-Tabi`in, dan para pengikut mereka yang terdiri daripada para ahli Hadith, imam-imam yang membawa petunjuk pada tiga kurun pertama yang dimuliakan oleh Allah ta`ala.Dasarnya ialah firman Allah ta`ala:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah redha kepada mereka dan mereka pun redha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.
Berkata Sa`id al-Musayyib(w 94H), Qatadah(117H),Ibnu Sirin: Mereka ialah sahabat yang sempat solat dua kiblat, berkata pula `Atho` ibn Abi Robah(W114 H): Mereka adalah ahli Badar, berkata Al-Sya`bi: Mereka ialah sahabat yang menyaksikan Bai`ah al-ridwan [3] dan mereka yang megikuti dan menyelusuri jalan atau manhaj sahabat iaitulah tab`iin, tabi` tabi`in dan para pengikut mereka.Mereka ialah golongan yang mendahului umat ini dalam menyahut seruan Islam, Iman, berjihad dan menegakkan agama Allah[4].Tidak syak lagi mereka ialah para sahabat Nabi sallallahu`alaihiwasallam.
Tidak perlu dinafikan lagi merekalah yang disebut Salaf al-Soleh yang mendahului kita dalam akidah, ibadah, jihad dan perjuangan.Mereka meredhai Allah dan Allah meredhai mereka dan menjanjikan mereka ganjaran syurga begitu juga bagi sesiapa yang sudi dan hendak mengikuti dan menyelusuri jalan mereka.Jaminan ini dikuatkan lagi dengan pengakuan dan jaminan Nabi sallallahu`alaihiwasallam seperti dalam sabda baginda :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ[5]
Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku ini(para sahabat)kemudian yang setelahnya(Tabi`in),kemudian yang setelahnya( Tabi`tabi`in).
Merekalah sebaik-baik manusia yang wajib kita panuti dan ikuti dalam akidah,ibadah, dakwah dan akhlak kita, hal ini kerana ianya merupakan perintah yang datang dari Allah ta`ala dan RasulNya.
Salafi dan penisbahan golongan yang menisbahkan dengan nama ini juga adalah sesuatu yang ditunjuk oleh Nabi sallallahu`alaihiwasallam bukan sepertimana sangkaan sesetengah pihak yang memandang ianya sesuatu yang tiada dasar dalam agama hal ini dibuktikan oleh perkataan baginda sallallahu`alaihiwasallam kepada puteri kesayangannya Fatimah radiallahu`anha:
نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ[6]
Sebaik-baik Salaf bagi engkau ialah aku
Perlu diperbetulkan juga bahawa mereka bukanlah kelompok atau golongan,atau satu jamaah seperti difahami segelintir orang.Mereka disebut salafi kerana mereka mengikuti manhaj Salaf al-Soleh iaitu para sahabat, Tabi`in,Tabi`tabi`in kemudian para imam dan ulama`yang mengikuti manhaj mereka hingga hari kiamat.
Selain dari menisbahkan diri mereka kepada Salaf mereka juga terkenal dengan beberapa nama lain yang juga diambil berdasarkan al-Quran, al-Sunnah dan kefahaman Para Sahabat, antara lain ialah:
Ahli Sunnah wal Jama`ah
Nama ini adalah nama yang paling dominan sehingga ramai kelompok sesat[7] dan menyeleweng turut mendakwa mereka adalah ahli Sunnah.Dasar nama ahli Sunnah wal Jama`ah ini berdasarkan firman Allah ta`ala:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram[8]
Berkata Ibnu `Abbas radiallahu`anhuma: iaitulah pada hari Kiamat kelak, ketikamana muka-muka ahli Sunnah wal Jama`ah putih berseri, manakala muka-muka ahli Bid`ah wal-Firqah hitam dan muram[9]
Ahlul Hadith
Mereka juga dikenali dengan ahlul Hadith disaat ramai manusia yang menolak hadith-hadith Nabi sallallahu`alaihiwasallam dan tidak mahu beramal dengannya[10].Dasarnya ialah hadith:
لَا يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ
Sentiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap berada di atas yang demikian itu.[11]
Berkata Imam Ahmad Ibn Hanbal rahimahullah:
إِنْ لَمْ يَكُونُوا أَهْل الْحَدِيث فَلَا أَدْرِي مَنْ هُمْ
Kalaulah mereka bukan ahlul Hadith maka aku tidak tahu siapa lagi mereka.[12]
Begitu juga yang berpendapat mereka adalah ahlul hadith ialah `Ali Ibn al-Madini dan Imam al-Bukhari.[13]
Berkata Qadhi al-`Iyyadh: Sesungguhnya apa yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad ialah mereka ialah sesiapa sahaja yang beri`tiqad(berpegang,berkeyakinan,melazimi)mazhab ahli Hadith.[14]
Tho`ifah al-Mansurah(Golongan yang diberi Pertolongan)
Mereka juga disebut sebagai Tho`ifah al-Mansurah[15], iaitulah kelompok atau golongan yang diberi pertolongan oleh Allah ta`ala,hal ini berdasarkan hadith Nabi sallallahu`alaihiwasallam:
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
Daripada Mu`awiyyah Ibn Qurrah daripada bapanya katanya: Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam bersabda: Sentiasa akan ada segolongan dari ummatku mereka diberikan pertolongan dan tidak dapat mencelakai mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sehingga datangnya hari kiamat.[16]
Ghuraba`( Golongan Yang Asing)
Mereka juga disebut sebagai Ghuraba` kerana betapa asingnya mereka disisi manusia, Hal ini sepertimana hadith Nabi sallallahu`alaihiwasallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Daripada Abu Hurairah radiallahu`anhu katanya: Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam bersabda: Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghuraba`(Orang-orang yang asing)[17]
Al-Ghuraba` sepertimana yang diterangkan oleh Nabi sallallahu`alaihiwasallam:
الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي
Mereka ialah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirosakkan oleh manusia selepas peninggalanku[18]
Dalam riwayat lain disebut:
أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سُوءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
Orang-orang yang shalih yang berada di tengah-tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang menentang mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka.[19]
Di dalam kitab al-I`tishom, Imam Syatibi rahimahullah membawakan satu riwayat yang menjelaskan lagi maksud al-ghuraba`;
الذين يحيون ما أمات الناس من سنتي
Iaitulah mereka yang menghidupkan sebahagian Sunnahku yang telah dimatikan.
Benarlah memang mereka golongan yang asing ini ialah mereka yang shalih(baik) sentiasa berpegang dan mengamalkan sunnah ketikamana ramai manusia yang mengamalkan bid`ah dan maksiat, mereka sentiasa kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah apabila berlaku perselisihan di kalangan mereka.Bilangan mereka sangat sedikit berbanding golongan yang menentang dan mengingkari mereka.
Mereka juga dikenali sebagai ahli athar, Firqatun Najiyah(golongan yang selamat).
Sekali lagi penulis menyeru agar kita kembali memahami agama ini menurut kefahaman Salaf al-Soleh.Persoalan yang hendak dibangkitkan di sini ialah adakah kita benar-benar menjadikan Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam dan para Sahabat radiallahu`anhum sebagai panutan dan ikutan kita.Sebelum mengakhiri tulisan ini, sekali lagi penulis mengajak pembaca sekalian agar kita sama-sama memeriksa perkara-perkara berikut dalam diri kita:
1) Adakah akidah kita sama seperti akidah yang diajar dan dibawa oleh Nabi sallallahu`alaihiwasallam dan para sahabat ?
2) Benarkah ibadah yang kita lakukan mengikut sepertimana yang diajarkan oleh Nabi sallallahu`alaihiwasallam?, Solat kita,puasa kita,zakat kita,haji kita adakah ianya berdasarkan dalil dan petunjuk Nabi sallallahu`alaihiwasallam atau kita hanya bertaqlid buta?
3) Apakah kita merasa bangga apabila kita hanya mendakwa kita berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah sedangkan hakikatnya kita sering mengabaikan al-Quran dan al-Sunnah dalam setiap tindak tanduk kita seharian?
4) Adakah usaha kita untuk memahami mentadabburi dan mengamalkan ayat-ayat al-Quran dan hadith-hadith Nabi lebih banyak berbanding pembacaan kita terhadap novel-novel dan lagu-lagu ciptaan manusia?
Penulis menyeru agar kita sama-sama berusaha untuk kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah mengikut kefahaman Salaf as-Soleh agar kita mendapat keredhaan Allah ta`ala di dunia dan di akhirat.
———————————————————————————————————Footnotes:
[1] Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzur al-Afriqi, al-Misri, Lisanul`Arab, 9/158 , Maktabah Syaamilah Edisi ke-2
[2] Fairuzaabadi, Qamus al-Muhit, 2/391, Maktabah Syaamilah ediisi ke-2. 2
[3] `Abdullah Ibn Ahmad Ibn `Ali Zaid, Mukhtasor Tafsir al-Baghawi 3/423, Maktabah Syaamilah edisi le-2
[4]`Abdul Rahman Ibn Naasir Ibn Sa`di, Taysir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannaan, Dar al-Hadith, MS 365
[5] HR Bukhari no: 3322, 3458, Muslim no: 4601 daripada `Abdullah Ibn Mas`ud radiallahu`anhu.
[6] HR Bukhari no:5812, Muslim no: 4487
[7] Hal ini berlaku kepada kelompok muktazilah dan kelompok yang berfahaman seperti mereka seperti `Asya`irah, Jahmiyyah,Khawarij,Murjiah dan lain-lain.Dakwaan mereka adalah tertolak apabila mereka jelas-jelas mendahulukan akal mereka berbanding nas-nas al-Quran dan Hadith-hadith yang shahih.Sedangkan ahli Sunnah sentiasa mendahulukan nas al-Quran dan al-Sunnah mendahului pendapat dan akal mereka.
[8] Surah ali-Imraan[3]:106
[9] Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-`Azhim 2/91
[10] Termasuk dikalangan mereka ialah golongan yang taksub kepada mazhab tertentu, sehingga datang hadith yang bercanggah dengan pendapat mazhabnya jelas-jelas dia menolak hadith dan banyak memberikan alas an untuk mengikuti hadith.
[11] HR Bukhari no:3369,6906, Muslim no: 3544, 3548
[12] Fathul Bari, Ibn Hajar al-`Asqalani, 20/368 ,Maktabah Syaamilah
[13] Tuhfatul al-Ahwazi, 6/11
[14] An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim 6/400
[15] Di dalam riwayat lain ada disebut tentang mereka ini adalah ahli Syam sepertimana yang disebut oleh Muaz Ibn Jabal. Shahih Bukhari 11/472, Musnad Ahmad ,34/287
[16] HR Ibn Majah no:6, Shahih, lihat al-Albani , Shahih Sunan Ibn Majah , 1/78
[17] HR Muslim no:208
[18] HR Tirmidzi no:2554, Berkata Imam Tirmidzi: Hadith ini Hasan Shahih
[19] HR Ahmad no:6362
dipetik dari: http://madrasahhadith.blogspot.com/2009_03_01_archive.html#4264113041087690460
PENGERTIAN ILMU YANG BERMANFAAT
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Di dalam Al-Qur-an terkadang Allah Ta’ala menyebutkan ilmu pada kedudukan yang terpuji, yaitu ilmu yang bermanfaat. Dan terkadang Dia menyebutkan ilmu pada kedudukan yang tercela, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat.
Adapun yang pertama, seperti firman Allah Ta’ala,
“… Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’…” [Az-Zumar: 9]
Firman Allah Ta’ala,
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [Ali ‘Imran: 18]
Firman Allah Ta’ala.
“… Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” [Thaahaa: 114]
Firman Allah Ta’ala.
“… Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” [Faathir: 28]
Firman Allah Ta’ala tentang kisah Adam dan pelajaran yang didapatkannya dari Allah tentang nama-nama segala sesuatu, dan memberitahukannya kepada para Malaikat. Para Malaikat pun berkata,
“Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’” [Al-Baqarah: 32]
Dan firman Allah Ta’ala mengenai kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidhir. Nabi Musa berkata kepadanya,
“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’” [Al-Kahfi: 66]
Ini semua adalah ilmu yang bermanfaat.
Dan terkadang Allah Ta’ala mengabarkan keadaan suatu kaum yang diberikan ilmu, namun ilmu yang ada pada mereka tidak bermanfaat. Ini adalah ilmu yang bermanfaat pada hakikatnya, namun pemiliknya tidak mengambil manfaat dari ilmunya itu. Allah Ta’ala berfirman,
“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Al-Jumu’ah: 5]
Adapun ilmu yang Allah Ta’ala sebutkan pada kedudukan tercela, yaitu ilmu sihir seperti firman-Nya,
“… Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka sudah tahu barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.” [Al-Baqarah: 102]
Dan firman Allah Ta’ala,
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” [Ar-Ruum: 7]
Karena itulah As-Sunnah membagi ilmu menjadi ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat, juga menganjurkan untuk berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat dan memohon kepada Allah Ta’ala ilmu yang bermanfaat. [1]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.” [2]
Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal.
Pertama, mengenal Allah Ta’ala dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap, dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.
Kedua, mengetahui segala apa yang diridhai dan dicintai Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin serta ucapan. Hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya untuk bersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka sungguh, hati itu akan merasa khusyu’, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qana’ah dan zuhud di dunia.” [3]
Imam Mujahid bin Jabr (wafat th. 104 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya sedikit. Dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat durhaka kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya banyak.” [4]
Perkataan beliau rahimahullaah menunjukkan bahwa ada orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, namun ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi orang tersebut karena tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur-an, penjelasan makna hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka…” [5]
Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) rahimahullaah berkata, “Ilmu itu apa yang dibawa dari para Shahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, adapun yang datang dari selain mereka bukanlah ilmu.” [6]
Beliau juga mengatakan, “Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur-an, penjelasan makna hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka…” [7]
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullaah mengatakan,
Seluruh ilmu selain Al-Qur-an hanyalah menyibukkan,
kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam rangka mendalami ilmu agama.
Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaalaa, had-datsanaa (telah menyampaikan hadits kepada kami)’.
Adapun selain itu hanyalah waswas (bisikan) syaitan. [8]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan kepada kita mengenai orang yang faham tentang agama Allah Ta’ala, ia memperoleh manfaat dari ilmunya dan memberikan manfaat kepada orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan perumpamaan orang yang tidak menaruh perhatian pada ilmu agama, dengan kelalaiannya itu mereka menjadi orang yang merugi dan bangkrut.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan deras yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yaitu yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.” [9]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika datang membawa ajaran agama Islam, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang dibutuhkan manusia. Kondisi manusia sebelum diutusnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti tanah yang kering, gersang dan tandus. Kemudian kedatangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam membawa ilmu yang bermanfaat menghidupkan hati-hati yang mati sebagaimana hujan menghidupkan tanah-tanah yang mati.
Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai tanah yang terkena air hujan, di antara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.
Di antara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengamalkannya, akan tetapi dia mengajarkannya untuk orang lain. Maka, dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang disebut dalam sabda beliau, “Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengajarkannya seperti yang dia dengar.” Di antara mereka ada juga yang mendengar ilmu namun tidak menghafal/menjaganya serta tidak menyampaikannya kepada orang lain, maka perumpamaannya seperti tanah yang berair atau tanah yang gersang yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilingnya.
Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua disebabkan keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga disebabkan tercela dan tidak bermanfaat.
Jadi, perumpamaan hadits di atas terdiri dari 2 (dua) kelompok. Perumpamaan pertama telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan perumpamaan kedua, bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama Islam namun tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah tandus sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya.” Atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.
Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam, tetapi ia mengingkari dan kufur kepadanya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras, dimana air mengalir di atasnya, tetapi tidak dapat memanfaatkannya.
Hal ini diisyaratkan dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Dan tidak peduli dengan petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.”
Ath-Thibi berkata, “Manusia terbagi menjadi dua”.
Pertama, manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkannya kepada orang lain.
Kedua, manusia yang tidak memanfaatkan ilmu bagi dirinya, namun ia mengajarkan kepada orang lain.”
Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani, kategori pertama masuk dalam kelompok pertama. Sebab, secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatannya berbeda. Begitu juga dengan tanaman yang tumbuh, di antaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah, sebenarnya dia termasuk kelompok kedua seperti yang telah kami jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib, maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya.
Orang semacam ini termasuk dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya.” [10]
[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
___________
Foote Notes
[1]. Disarikan dari kitab Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 11-13), karya Imam Ibnu Rajab rahimahullaah, ta’liq dan takhrij Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali Abdul Hamid, cet. I, Daar ‘Ammar, th. 1406 H.
[2]. Majmuu’ al-Fataawaa (VI/388, XIII/136) dan Madaarijus Saalikiin (II/488)
[3]. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 47).
[4]. Al-Bidaayah wan Nihaayah (V/237).
[5]. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 41).
[6]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (I/769, no. 1421) dan Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 42).
[7]. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 41).
[8]. Diiwaan Imam asy-Syafi’i (hal. 388, no. 206), dikumpulkan dan disyarah oleh Muhammad ‘Abdurrahim, cet. Daarul Fikr, th. 1415 H.
[9]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 79) dan Muslim (no. 2282), dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu. Lafazh hadits ini milik al-Bukhari.
[10]. Lihat Fat-hul Baari (I/177).